Oleh: Ulvi Monica Aulia, Pundi Sumatera
Bagi komunitas Suku Anak Dalam, hutan selama ini bukan hanya tempat hidup, tetapi juga sumber pengetahuan tentang kesehatan. Di sanalah berbagai tanaman obat ditemukan dan digunakan untuk mengobati beragam penyakit, mulai dari sakit perut, demam, hingga membantu proses persalinan. Pengetahuan tentang tanaman obat ini diwariskan secara turun-temurun dan dalam praktik sehari-hari, perempuan memiliki peran penting dalam menjaga dan menggunakan pengetahuan tersebut.
Perempuan biasanya menjadi orang yang merawat anggota keluarga yang sakit, mencari tanaman obat di hutan, sekaligus meracik ramuan tradisional. Mereka mengetahui jenis tumbuhan yang dapat meredakan demam, mengatasi diare, atau mengobati luka. Pengetahuan ini tidak tertulis, tetapi dipelajari melalui pengalaman dan cerita dari para orang tua.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, situasi mulai berubah. Hutan yang dulu menjadi sumber tanaman obat semakin berkurang. Bagi sebagian perempuan Suku Anak Dalam di Dusun Dwi Karya Bakti, mencari tanaman obat kini berarti berjalan kaki hingga sekitar tiga kilometer menuju sisa-sisa rimba yang masih tersisa. Perjalanan ini dilakukan terutama ketika anggota keluarga mengalami penyakit ringan seperti sakit perut, sakit kepala, mual, atau demam.
Perubahan lingkungan juga memengaruhi cara masyarakat mengobati penyakit. Generasi yang lebih muda kini lebih banyak menggunakan obat modern dari puskesmas atau klinik. Sementara itu, penggunaan obat tradisional masih sering dilakukan oleh orang tua dan anak-anak. Sebagian induk masih memilih obat herbal untuk anak-anak karena merasa lebih aman dibandingkan obat kimia yang dosisnya belum sepenuhnya mereka pahami.
Melihat kondisi tersebut, para kader perempuan di komunitas mulai berdiskusi tentang bagaimana pengetahuan tanaman obat tetap dapat dipertahankan. Percakapan ini kemudian berkembang ketika pemerintah dusun mengadakan lomba TOGA (Tanaman Obat Keluarga) melalui kegiatan Posyandu. Awalnya, kader perempuan hanya berniat mengikuti kegiatan tersebut sebagai bentuk partisipasi. Namun dari situ muncul gagasan untuk mencoba menanam tanaman obat rimba di pekarangan.
Sebelum memulai, mereka terlebih dahulu berdiskusi dengan para tetua adat dan orang-orang tua di komunitas yang masih memiliki pengetahuan tentang tanaman obat. Dari pertemuan tersebut, mereka mengidentifikasi jenis-jenis tanaman yang biasa digunakan untuk pengobatan dan kemungkinan untuk menanamnya di sekitar pemukiman. Para tetua juga memberikan beberapa cara agar tanaman rimba dapat bertahan ketika dipindahkan dari hutan.
Salah satu pesan yang mereka ingat adalah bahwa bibit tanaman sebaiknya diambil langsung dari hutan bersama dengan tanah yang masih menempel di akarnya. Tanah tersebut diyakini membantu tanaman beradaptasi dengan lingkungan baru ketika dipindahkan ke pekarangan.
Dengan pengetahuan itu, para kader perempuan mulai mencoba menanam beberapa jenis tanaman obat yang biasa tumbuh di hutan. Mereka memindahkan bibit dari rimba dan menanamnya di sekitar area Sekolah Perempuan SAD. Proses ini tidak selalu berjalan mulus. Dari sekitar lima belas jenis tanaman yang dicoba pada awalnya, tidak semuanya mampu bertahan.
Sebagian tanaman tidak dapat tumbuh dengan baik di pekarangan. Kondisi tanah di sekitar pemukiman berbeda dengan tanah hutan yang lembap dan kaya bahan organik. Selain itu, lingkungan yang kini dikelilingi oleh kebun sawit memiliki paparan sinar matahari yang lebih terbuka dibandingkan habitat alami tanaman rimba yang biasanya berada di bawah naungan pepohonan.
Namun melalui beberapa percobaan, mereka mulai memahami tanaman mana yang lebih mudah beradaptasi. Penyesuaian juga dilakukan, misalnya dengan memilih tempat yang lebih teduh atau menambahkan bahan organik pada tanah. Proses ini menjadi ruang belajar bersama bagi para kader perempuan untuk mengenali kembali karakter setiap tanaman.
Pada akhirnya, terdapat tujuh jenis tanaman yang berhasil tumbuh dengan baik di pekarangan Sekolah Perempuan SAD. Di antaranya adalah polai yang digunakan untuk mengobati sakit gigi dan penawar gigitan tawon, pelengko pamunson untuk diare, pengendo urat untuk terkilir, tebupungguk untuk sakit telinga, cecerek untuk sakit perut, rusuk untuk meredakan pegal-pegal, serta lelendingon yang biasa digunakan dalam ramuan pendukung proses persalinan.
Tanaman-tanaman ini kemudian dirawat bersama sebagai bagian dari kebun kecil tanaman obat rimba di pekarangan komunitas.
Bagi para perempuan, keberadaan kebun ini memberikan perubahan yang cukup berarti dalam kehidupan sehari-hari. Ketika ada anggota keluarga yang mengalami sakit ringan, mereka tidak lagi harus berjalan jauh ke hutan untuk mencari tanaman obat. Sebagian kebutuhan pengobatan tradisional kini dapat dipenuhi dari pekarangan yang lebih dekat dengan rumah.
Selain mempermudah akses, kebun tanaman obat ini juga membantu mengurangi pengeluaran rumah tangga untuk pengobatan sederhana. Tanaman yang ditanam dapat langsung dimanfaatkan untuk meracik ramuan ketika diperlukan.
Lebih dari itu, kebun tersebut juga menjadi ruang untuk menjaga pengetahuan yang selama ini dimiliki perempuan Suku Anak Dalam. Pengetahuan tentang tanaman obat yang sebelumnya hanya dipraktikkan ketika berada di hutan kini dapat terus digunakan dan dipelajari oleh generasi yang lebih muda.
Di sekitar kebun ini, para perempuan sering berbagi cerita tentang cara meracik obat, kapan tanaman tertentu digunakan, dan bagaimana pengalaman mereka merawat keluarga yang sakit. Anak-anak dan perempuan muda yang berada di sekitar Sekolah Perempuan SAD juga mulai mengenal kembali nama-nama tanaman serta kegunaannya.
Bagi komunitas, upaya kecil ini bukan hanya tentang menanam tanaman obat di pekarangan. Ia juga menjadi cara untuk menjaga hubungan antara pengetahuan leluhur dengan kehidupan sehari-hari yang terus berubah.
Ketika hutan semakin jauh dan perubahan lingkungan tidak selalu dapat dihindari, para perempuan mencoba mencari cara agar pengetahuan yang mereka miliki tidak ikut hilang. Melalui kebun sederhana di pekarangan komunitas, mereka menunjukkan bahwa sebagian dari pengetahuan itu masih dapat dirawat, dipelajari, dan digunakan kembali.
Dengan cara itu, tanaman obat rimba tidak hanya tetap hidup sebagai tumbuhan, tetapi juga sebagai bagian dari pengetahuan dan pengalaman yang terus diwariskan di dalam komunitas.