oleh: Ulvi Monica Aulia, Pundi Sumatra
“Habis gelap terbitlah terang” adalah kiasan yang begitu akrab. Kita mengenalnya dari Raden Ajeng Kartini, dan setiap tahun kalimat itu kembali kita ucapkan. Bagi banyak perempuan, ia terasa hangat—seperti pengingat bahwa di balik keterbatasan, selalu ada harapan untuk berubah dan ruang untuk tumbuh. Dari makna sederhana itu, kita belajar percaya bahwa setelah gelap akan ada terang, setelah luka ada pemulihan, dan perlahan ada bahagia.
Keyakinan ini sering terasa dekat ketika kita melihat perubahan dalam diri sendiri. Namun, cerita itu tidak selalu sama bagi semua perempuan, terutama bagi anak-anak perempuan di komunitas Suku Anak Dalam.
Dulu, banyak anak perempuan tumbuh dalam ruang yang sudah ditentukan. Sejak kecil, mereka tahu siapa yang akan menjadi jodohnya, kapan mereka akan menikah, dan seperti apa jalan hidup yang harus dijalani. Masa kecil mereka terasa singkat—bukan karena mereka ingin segera dewasa, tetapi karena keadaan mendorong mereka sampai ke fase itu lebih cepat.
Mereka hidup di hutan, jauh dari akses luar. Pilihan terasa terbatas. Pendidikan belum menjadi prioritas; yang utama adalah bagaimana bisa makan, bertahan, dan melewati hari. Suara anak perempuan jarang hadir dalam pengambilan keputusan. Hidup berjalan mengikuti alur yang diwariskan: patuh pada adat, menjaga kehormatan keluarga, dan menikah di usia muda.
Gelap di sini bukan berarti tanpa nilai. Ia lebih tentang sempitnya ruang untuk bermimpi, belajar, dan menentukan arah hidup sendiri. Seperti berjalan dengan pandangan yang kabur, melangkah tanpa benar-benar tahu ke mana ingin pergi.
Namun perlahan, terang itu mulai tampak….
Di beberapa komunitas, perubahan mulai terasa. Mereka tidak lagi sepenuhnya hidup berpindah-pindah; sudah ada tempat tinggal yang lebih tetap dan penghidupan yang lebih terjaga. Anak perempuan mulai mengenal pendidikan, meski dari hal-hal sederhana. Mereka belajar membaca dan menulis, dan mulai berani menyuarakan hal-hal yang dulu hanya disimpan. Mereka mulai mengenal cita-cita, membayangkan masa depan, dan pelan-pelan menyadari bahwa hidup bisa memiliki pilihan.
Dalam proses ini, peran pendamping menjadi penting. Mendampingi bukan sekadar datang untuk mengajarkan, tetapi hadir untuk mendengar dan membuka ruang. Banyak dari mereka tidak terbiasa mengungkapkan isi hati. Cerita tidak akan datang dengan sendirinya, kecuali kita benar-benar hadir dan sabar menunggu.
Di situlah peran sebagai jembatan terasa nyata…..
Anak perempuan tidak lagi hanya dipersiapkan untuk menikah. Mereka mulai diajak memahami bahwa mereka punya hak untuk belajar, bertumbuh, dan bahkan menunda keputusan besar dalam hidupnya.
Ada satu cerita yang masih melekat.
Namanya Sinta. Ia sudah beranjak remaja menuju dewasa, tetapi saat ini masih menempuh pendidikan sekolah dasar. Keterbatasan akses beberapa tahun lalu membuatnya terlambat masuk sekolah. Dari perjalanan hidupnya, terlihat ada banyak hal yang belum sempat ia rasakan di masa kecil. Suatu waktu, ada seorang laki-laki yang ingin mempersuntingnya.
Dalam komunitas Suku Anak Dalam, ada istilah “budak jenton meng’inai u’ang be’anak betina”. Istilah ini merujuk pada kesungguhan seorang laki-laki yang ingin menikahi perempuan, dengan memberikan sebagian hasil kerjanya kepada keluarga pihak perempuan. Tradisi ini telah lama hidup dan menjadi bagian dari adat.
Ketika pertama kali mendengarnya, perasaanku bercampur. Ada tanya, ada gelisah. Namun di saat yang sama, aku sadar bahwa posisiku adalah pendamping, bukan penilai.
Suatu hari, Sinta bercerita. Suaranya pelan, kalimatnya sederhana. Tapi dari matanya, terlihat jelas ada sesuatu yang ingin disampaikan.
“Aku belum mau,” katanya.
Kalimat itu singkat, tetapi tidak ringan. Di baliknya ada adat, keluarga, dan harapan orang lain yang harus dihadapi. Aku tidak langsung menegur orang tuanya. Aku memilih mendampingi Sinta—mendengarkan lebih dulu, menguatkan, dan perlahan membuka ruang agar suaranya bisa sampai.
Ia kembali bercerita, hampir seperti berbisik. Ia tidak ingin menikah sekarang. Ia masih ingin sekolah. Kata-katanya sederhana, tetapi keberanian untuk mengucapkannya tidak sederhana.
Saat itu aku hanya berkata, “Kamu tetap tenang, dan terus rajin sekolah. Tunjukkan ke orang tuamu kalau kamu sungguh-sungguh. Mungkin dari situ mereka akan mempertimbangkan kembali.”
Aku tidak langsung bertindak. Aku memilih menunggu sejenak. Bukan karena tidak peduli, tetapi karena khawatir langkahku justru membuat Sinta disalahkan. Aku tidak ingin kehadiranku membuatnya dianggap mengadu.
Beberapa hari kemudian, aku mencoba pendekatan lain. Sore itu, aku datang ke rumah ibunya. Duduk santai seperti biasa, berbincang ringan. Aku mulai bercerita tentang Sinta—bagaimana akhir-akhir ini ia banyak membantu dalam kegiatan komunitas, ikut dalam kegiatan posyandu, menemani koordinasi ke kantor desa, bahkan ikut study tour ke kampus di kabupaten.
Aku berkata, “Dengan adanya Sinta, saya merasa sangat terbantu. Saya jadi lebih nyaman menjalankan kegiatan di sini.”
Aku menyampaikannya apa adanya, karena memang itu yang kurasakan. Aku tidak langsung membahas soal pernikahan. Hingga akhirnya, dengan hati-hati, aku berkata, “Sayang sekali kalau Sinta harus menikah cepat. Semoga dia bisa terus sekolah… sampai SMA pun sudah sangat baik.”
Kalimat itu aku sampaikan pelan, tanpa tekanan.
Di kesempatan lain, aku juga menyelipkan obrolan ringan tentang risiko menikah di usia dini. Tentang adanya aturan hukum yang melindungi anak. Bukan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk membuka sudut pandang.
Hari-hari berlalu. Aku tidak tahu apakah percakapan-percakapan kecil itu membawa pengaruh.
Sampai suatu hari, kabar itu datang. Ibu Sinta mengembalikan uang yang sebelumnya diberikan oleh laki-laki yang ingin melamarnya.
Di komunitas mereka, itu bukan hal kecil. Itu adalah tanda penolakan. Artinya, setidaknya untuk saat ini, pernikahan itu tidak jadi.
Aku terdiam cukup lama saat mendengarnya. Ada lega, ada haru, ada rasa yang sulit dirangkai dengan kata.
Aku tidak tahu bagian mana yang akhirnya menyentuh hati orang tua Sinta. Mungkin bukan hanya kata-kata. Mungkin juga karena mereka melihat sendiri kesungguhan Sinta.
Namun satu hal yang pasti, Sinta mulai berani. Meski di rumahnya sendiri ia masih sering harus mengikuti kehendak orang lain, hari itu ia mendapatkan sedikit ruang untuk memilih.
Aku berharap keputusan ini bukan hanya sementara. Semoga ini menjadi awal bagi Sinta untuk terus melangkah, belajar, dan tumbuh hingga benar-benar siap menentukan hidupnya sendiri.
Bagi Sinta, ini bukan sekadar penundaan pernikahan.
Ini adalah awal dari “terang”—terang yang ia perjuangkan dengan suaranya sendiri.
Seperti potongan lirik dari Hindia dalam lagu Berdansalah, Karir: “lakukan apa yang kau mau sekarang.”
Kalimat itu sederhana, tetapi terasa cukup dalam. Sebuah ajakan untuk berani memilih, melangkah, dan menjadi diri sendiri—sesuatu yang dulu tidak selalu dimiliki oleh perempuan.
Tulisan ini didedikasikan untuk setiap perempuan yang masih mencari terangnya dan untuk mereka yang hari ini mulai menyalakan cahayanya sendiri