Perjalanan Negan Menembus Stigma dan Membangun Kemandirian

Oleh: M. Prayoga Aidil Fitri, Pundi Sumatera

Negan adalah bagian dari komunitas Suku Anak Dalam (SAD) Rombong Juray Pematang Kejumat yang bermukim di Kelurahan Limbur Tembesi, Kabupaten Sarolangun. Seperti banyak anggota komunitasnya, ia hidup dalam konteks perubahan sosial dan ekologis yang cepat. Hutan yang dahulu menjadi ruang hidup utama telah menyempit, berganti menjadi perkebunan sawit. Perubahan bentang alam tersebut tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga pada sistem penghidupan, relasi sosial, dan posisi tawar masyarakat adat di ruang publik.

Dalam beberapa tahun terakhir, sebagian anggota komunitas SAD beradaptasi dengan bekerja sebagai pencari berondolan sawit, pengumpul barang bekas, atau buruh informal lainnya. Pekerjaan ini tidak stabil dan seringkali berada dalam posisi rentan secara hukum maupun sosial. Mereka kerap dicurigai mengambil hasil sawit tanpa izin atau dianggap mengganggu ketertiban. Stigma sebagai “suku kubu” masih terdengar dalam percakapan sehari-hari masyarakat sekitar.

Negan tumbuh dan hidup dalam situasi tersebut. Ia juga seorang penyandang disabilitas fisik. Dalam konteks sosial yang sudah sarat stigma terhadap identitas adat, kondisi disabilitas menambah lapisan kerentanan. Hambatan yang ia hadapi bukan hanya persoalan teknis terkait kondisi fisiknya, tetapi juga persepsi orang lain terhadap kapasitasnya. Apalagi di banyak ruang kerja informal, kemampuan sering diukur dari standar fisik tertentu. Bagi Negan, ruang untuk membuktikan diri tidak selalu tersedia.

Namun demikian, Negan memiliki ketertarikan yang konsisten terhadap mesin sepeda motor. Aktivitasnya sebagai pencari berondolan sawit membuat sepeda motor menjadi alat kerja utama. Medan jalan yang rusak dan jarak tempuh yang jauh menyebabkan motornya kerap mengalami kerusakan: rantai putus, gear aus, ban bocor, atau gangguan kelistrikan. Biaya perbaikan menjadi beban tersendiri. Situasi ini memunculkan rasa ingin tahu di dalam dirinya apakah ia bisa memperbaikinya sendiri.

Bengkel Motor Ari, yang berlokasi tidak jauh dari tempat tinggalnya, menjadi ruang awal pembelajaran tersebut. Pemilik bengkel telah lama berinteraksi dengan komunitas SAD sehingga interaksi berjalan tanpa ketegangan berarti. Suatu hari, ketika antrean servis cukup panjang, Negan meminta izin untuk mencoba memperbaiki motornya sendiri dengan peralatan yang tersedia.

Awalnya ia mengamati. Ia melihat bagaimana montir membuka baut yang macet, mengganti gear, atau menyetel rantai. Ketika mengalami kesulitan, ia bertanya. Interaksi tersebut berlangsung setara. Tidak ada perlakuan merendahkan ketika ia tidak mengetahui sesuatu. Dalam proses mencoba dan mengulang, ia mulai memahami logika kerja mesin. Perbaikan gear yang berhasil ia lakukan sendiri menjadi titik penting. Pengalaman tersebut membangun keyakinan bahwa ia mampu.

Pemilik bengkel kemudian memberinya kesempatan membantu pekerjaan ringan. Negan tidak diposisikan sebagai objek belas kasihan, melainkan sebagai individu yang sedang belajar. Interaksi dengan pelanggan juga mulai berubah. Mereka melihat langsung hasil kerja yang Negan lakukan. Pada tahap ini, perubahan masih bersifat personal. Kepercayaan diri meningkat, keterampilan berkembang, dan relasi sosial mulai bergeser. Namun, perubahan struktural belum terjadi. Stigma terhadap komunitas SAD secara umum masih kuat di ruang publik.

Pendampingan dari Pundi Sumatra kemudian melihat potensi tersebut sebagai pintu masuk pemberdayaan yang lebih sistematis. Alih-alih langsung menawarkan pelatihan sejak awal, fasilitator terlebih dahulu mengamati minat dan praktik yang sudah muncul secara organik.

Negan bersama beberapa anggota komunitas difasilitasi mengikuti pelatihan teknik sepeda motor di SMK Negeri 10 Merangin dalam dua tahap: servis ringan dan servis berat. Akses ke lembaga pendidikan formal bagi masyarakat adat bukan hal biasa. Di banyak kasus, keterbatasan dokumen, jarak sosial, dan rasa tidak percaya diri menjadi hambatan. Namun komunikasi yang terbangun antara fasilitator dan pihak sekolah membuka ruang tersebut.

Selama pelatihan, Negan menunjukkan kemampuan memahami sistem kerja mesin secara menyeluruh. Guru praktik melihat bahwa ia tidak hanya meniru, tetapi memahami sistem kerja mesin. Setelah pelatihan, tantangan berikutnya adalah akses magang di bengkel umum. Fasilitator mencoba mendatangi tiga bengkel di wilayah Limbur Tembesi. Ketiganya menolak. Alasan yang muncul masih sama, kekhawatiran bahwa pelanggan akan beralih jika mengetahui ada anggota SAD magang di sana.

Namun, situasi tersebut tidak menghentikan proses belajar. Negan mengusulkan ide alternatif. Ia mengenal seorang pemilik bengkel di Pasar Pamenang, Pak Widodo, karena pernah memperbaiki motornya di sana. Dalam interaksi sebelumnya, ia sempat menunjukkan ketertarikannya mengutak-atik mesin. Bersama fasilitator, ia mengajukan permohonan magang.

Pak Widodo menerima dengan pertimbangan bahwa setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk belajar. Selama tiga hari magang, Negan dan kawan-kawan bekerja bersama mekanik lain, menangani kendaraan pelanggan, dan belajar metode kerja yang lebih sistematis. Mereka juga menghadapi situasi ketika alat tidak lengkap dan harus mencari solusi alternatif. Kemampuan adaptasi yang selama ini mereka kembangkan dalam konteks hidup di hutan menjadi nilai tambah.

Menariknya, selama proses tersebut tidak terjadi penurunan pelanggan. Bahkan di Bengkel Ari sebelumnya, jumlah pelanggan justru meningkat ketika masyarakat melihat bahwa Negan mampu memperbaiki motor dengan hasil memuaskan. Ini menunjukkan bahwa persepsi publik dapat berubah ketika interaksi langsung terjadi.

Walau usaha bengkel belum menjadi sumber pendapatan utama bagi Negan (karena ia masih berondol sawit dan ternak sapi sebagai sumber penghidupan), namun perubahan yang terjadi tidak semata-mata diukur dari peningkatan pendapatan.

Negan perlahan mendapatkan ruang untuk menunjukkan kapasitasnya tanpa direduksi oleh kondisi fisiknya. Ia tidak diperlakukan sebagai beban atau simbol inspirasi, melainkan sebagai individu dengan keahlian yang dapat berkembang.

Peneriman di bengkel formal dan lembaga pendidikan pun menunjukkan terbukanya akses yang sebelumnya tertutup. Penolakan yang terjadi di awal menjadi bukti bahwa hambatan bersifat struktural, bukan personal. Ketika satu bengkel membuka ruang, terjadi pergeseran persepsi di tingkat komunitas yang lebih luas.

Negan menyadari bahwa proses ini belum selesai. Ia menyampaikan keinginannya untuk suatu hari membuka bengkel sendiri di wilayah tempat tinggalnya. Pak Widodo pun menyatakan kesediaannya memberikan pendampingan teknis jika dibutuhkan. Dukungan semacam ini memperluas jejaring sosialnya di luar komunitas adat.

Cerita ini menunjukkan bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari intervensi besar. Ia dapat bermula dari rasa ingin tahu terhadap sebuah gear yang aus, dari keberanian bertanya tentang baut yang sulit dibuka. Namun agar perubahan itu berkelanjutan dan berdampak struktural, dibutuhkan dukungan yang peka terhadap konteks sosial, termasuk diskriminasi berbasis identitas dan disabilitas.

Pendampingan yang dilakukan tidak menggantikan peran Negan sebagai subjek utama. Justru penguatan terjadi karena ia sudah memiliki minat dan inisiatif. Kini, perubahan yang terlihat bukan hanya pada keterampilan teknis. Ia tampak pada meningkatnya kepercayaan diri, berkurangnya ejekan, serta bertambahnya ruang dialog antara komunitas SAD dan masyarakat sekitar. Identitas sebagai masyarakat adat dan penyandang disabilitas tidak lagi sepenuhnya menjadi pembatas, melainkan bagian dari perjalanan yang membentuk ketahanan dan kemampuan adaptasi.

Negan menjadi contoh bagaimana inklusi sosial, akses terhadap pelatihan, dan kemitraan lintas komunitas dapat memperkuat martabat individu sekaligus mengurangi diskriminasi struktural. Cerita ini bukan tentang keberhasilan individu semata, tetapi tentang bagaimana sistem sosial dapat berubah ketika kesempatan diberikan secara adil. Negan tidak lagi hanya dikenali sebagai bagian dari kelompok yang termarjinalkan. Ia dikenali sebagai mekanik yang kompeten, sebagai individu yang memiliki pilihan, dan sebagai warga yang setara dalam ruang sosialnya.

Penulis :