Jembatan Harapan di Tengah Banjir di Dusun Simarantihan

Oleh: Haryanto, KKI Warsi

Hujan turun deras selama tiga hari berturut-turut pada akhir Maret hingga April di Desa Suo-Suo, Kabupaten Tebo, Jambi. Air sungai meluap, dan Dusun Simarantihan, tempat bermukimnya komunitas adat Talang Mamak, perlahan terendam. Tujuh rumah warga tergenang air hingga lutut. Sebagian perabot dan hasil kebun hanyut terbawa arus. Ketika bencana datang, banyak yang hanya bisa pasrah, namun tidak bagi Sikar.

Sikar adalah seorang kader komunitas Talang Mamak yang selama ini dikenal aktif dalam kegiatan sosial dan pendampingan masyarakat. Ia bukan orang asing dalam hal advokasi dan komunikasi lintas pihak. Bersama Rusli, fasilitator dari Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi, Sikar telah berulang kali membantu warga mengakses layanan dasar dan memperjuangkan hak-hak masyarakat adat Talang Mamak.

Begitu melihat banjir mulai mengancam rumah-rumah warga, Sikar segera bergerak. Ia mencatat data kerusakan, mendata warga terdampak, dan mengambil dokumentasi sederhana menggunakan ponsel miliknya. Di malam hari, ia menghubungi Rusli dan menyampaikan kondisi darurat yang dialami warga Talang Mamak di Dusun Simarantihan.

Rusli menanggapi cepat. Sebagai fasilitator yang telah lama mendampingi komunitas, ia segera berkoordinasi dengan Dinas Sosial Kabupaten Tebo. Ia mengirimkan laporan lengkap, termasuk data yang dikumpulkan Sikar, serta mendesak agar bantuan segera dikirimkan ke lokasi yang sulit diakses itu.

Tak lama setelah itu, kabar baik datang. Dinas Sosial Tebo merespons laporan tersebut dengan mengirimkan tim bantuan darurat ke Desa Suo-Suo. Dengan dukungan pemerintah desa yang sebelumnya juga telah dikoordinasikan oleh Sikar, tim akhirnya tiba di Dusun Simarantihan, membawa logistik seperti sembako, selimut, peralatan mandi, serta perlengkapan bayi dan dapur darurat.

Warga menyambut bantuan itu dengan rasa syukur. Banyak yang tak menyangka bantuan bisa sampai ke dusun terpencil mereka. “Kalau bukan karena Sikar, mungkin tidak ada yang tahu kami kebanjiran,” ujar Suryati, salah satu warga terdampak.

Sikar tidak menganggap perannya sebagai sesuatu yang besar. “Saya hanya menyampaikan apa yang kami alami. Yang penting masyarakat kami tidak dibiarkan sendiri saat susah,” ujar dia dengan rendah hati.

Peristiwa banjir ini menjadi bukti bahwa keberadaan kader seperti Sikar, didukung oleh fasilitator seperti Rusli dan jaringan lembaga seperti KKI Warsi, sangat penting dalam memastikan masyarakat adat tidak tertinggal. Di tengah hutan dan ancaman bencana, semangat gotong royong dan kerja bersama masih menjadi andalan utama.

Keberadaan Sikar juga menunjukkan pentingnya akses layanan dasar bagi masyarakat adat di tengah bencana. Dengan adanya Sikar, masyarakat adat Talang Mamak bisa mengakses layanan dasar tersebut. Masyarakat adat Talang Mamak pun jadi memahami proses untuk mendapatkan layanan dasar. Hal itu juga yang menjadi tujuan dari Program Estungkara yang dijalankan KEMITRAAN Bersama KKI Warsi yakni mewujudkan pembangunan Indonesia yang inklusif, khususnya bagi masyarakat adat.

Penulis :