Oleh: Dewi Utari, SCF
Bahkan ketika sengat matahari menyapa wajahnya, Agus tidak pernah berhenti tersenyum sepanjang kegiatan Maros Hepi. Sebagai kader orang muda dari Desa Bontomanurung yang sangat gemar mendaki gunung, Agus menjadi pemandu lapangan yang melintasi jalan terjal, mempertemukan para kreator digital dengan warga, dan menjelaskan kearifan adat kepada para kreator digital.
Di Dusun Bara, Ibu Mirnawati dan Ibu Sabariah tak kalah semangatnya menjamu para kreator digital dengan cerita menarik mengenai pendidikan di Desa Bontosomba lewat cerita tentang “sekolah kolong”. Sementara itu di Kampung Pattung, RT 03 Dusun Bonto-Bonto, Desa Bontosomba, pasangan suami istri Andi dan Niar dengan ramah memfasilitasi kebutuhan para kreator digital, dengan menyediakan ruang diskusi, tempat beristirahat, hingga menjadi jembatan komunikasi dengan warga sekitar.
Semangat pengorganisasian para kader dari dusun-dusun yang terpisah inilah yang memungkinkan kegiatan charity Maros Hepi menjelma lebih dari sekadar kunjungan sosial. Ia menjadi ruang perjumpaan bermakna antara dunia digital dan realitas desa, sekaligus bukti bahwa transformasi sosial bermula dari kekuatan komunitas lokal itu sendiri.
Selama tiga hari, dari 19 hingga 21 Mei 2025, Desa Bontosomba dan Desa Bontomanurung di Kecamatan Tompobulu menjadi pusat perhatian berkat kegiatan sosial Maros Hepi. Sebanyak 20 peserta dari berbagai latar belakang datang bukan hanya membawa peralatan kamera dan membuat konten, tetapi mereka juga ikut terlibat dalam upaya perlindungan sosial bagi anak, perempuan adat, dan kelompok disabilitas.
Di tengah keterbatasan akses layanan dasar—yang selama ini menjadi tantangan bagi Desa Bontosomba dan Desa Bontomanurung di Kabupaten Maros—kehadiran para kreator digital ini membawa semangat baru. Mereka bekerja sama dengan berbagai pihak untuk menghadirkan layanan kesehatan dan edukasi langsung kepada warga. Kegiatan mereka meliputi sunat massal oleh tim Sunathrone, pemeriksaan dan edukasi kesehatan gigi oleh tim Xtra Smile dari Malaysia, serta penyuluhan tentang penggunaan alat kontrasepsi, pencegahan stunting, dan praktik parenting yang mendukung tumbuh kembang anak. Anak-anak juga mendapat sesi motivasi tentang cita-cita, membangun rasa percaya diri, dan pengenalan tubuh secara positif.
“Anak-anak di sini masih banyak yang belum terbiasa menyampaikan mimpi mereka. Padahal, semua anak harus merasa pantas untuk bermimpi,” ujar Shifa Kelana, seorang traveller dan kreator digital yang terlibat dalam sesi edukasi anak. Ia juga menambahkan pentingnya bantuan buku bahasa isyarat untuk anak-anak yang memiliki potensi besar namun terkendala keterbatasan pendengaran.
Neneng Risma Wulandari, komika yang juga aktif dalam gerakan sosial, menyoroti minimnya ketersediaan obat-obatan dasar di dusun terpencil. “Obat-obat untuk alergi kulit misalnya, itu sering kali sangat dibutuhkan warga, tapi sulit ditemukan. Ini hal kecil tapi penting,” kata dia.
Reza Dwi Yanda, yang dikenal sebagai Ejak, kreator digital yang kerap menyuarakan isu sosial, memberi perhatian pada aksesibilitas anak ke sekolah. “Ada sungai yang harus mereka seberangi setiap hari. Kalau tidak bisa semua, setidaknya bangun satu jembatan di titik paling menyulitkan,” ujar dia.
Masukan serupa datang dari Andi Berlian Tanwir, yang dikenal luas di media sosial sebagai Wakattan. Sebagai tenaga kesehatan, ia menjelaskan pentingnya keberadaan nakes yang tinggal menetap di desa. “Banyak kasus bisa dicegah kalau ada tenaga kesehatan yang bisa langsung turun tangan di lokasi,” ujar dia.
Semua temuan dan usulan ini kemudian disampaikan langsung kepada Wakil Bupati Maros Andi Muetazim Mansyur dalam pertemuan malam hari tanggal 21 Mei, di Rumah Jabatan Wakil Bupati. Suasana diskusi berlangsung hangat dan terbuka. Wakil Bupati menyatakan akan menindaklanjuti masukan-masukan tersebut dan bahkan mengundang para peserta untuk kembali melihat perkembangan dua desa tersebut di masa mendatang.
Kegiatan Maros Hepi ini juga merupakan bagian dari upaya yang lebih luas dalam semangat Program Estungkara dan Sulawesi Cipta Forum (SCF). Program Estungkara yang juga didukung KEMITRAAN telah berkontribusi dalam membangun kesadaran dan kapasitas komunitas adat di Kabupaten Maros, termasuk dalam hal perlindungan sosial dan penguatan kepemimpinan perempuan adat. Sementara itu, SCF mendukung terciptanya ruang-ruang kolaborasi multi pihak, di mana masyarakat lokal, pemerintah, dan mitra eksternal bisa bertemu dalam semangat yang inklusif dan gotong royong.
Maros Hepi menjadi titik temu antara dunia digital dan realitas persoalan di desa. Nilai-nilai inklusivitas terasa hidup: anak-anak diajak bicara tentang tubuh mereka, perempuan adat dilibatkan dalam diskusi kesehatan keluarga, dan anak-anak dengan hambatan disabilitas diberi ruang dan perhatian. Para peserta tidak datang sebagai tamu, melainkan tinggal di rumah warga, ikut makan, berjalan kaki menuju lokasi kegiatan, dan mendengar langsung cerita-cerita kecil yang selama ini tak tersampaikan. Kegiatan ini menegaskan bahwa keterlibatan digital tidak harus terpisah dari kerja-kerja sosial nyata di lapangan