Dari Ruang Belajar Menuju Garda Terdepan Eliminasi Malaria

Oleh: Ulvi Monica Aulia, Pundi Sumatra

Pagi itu Ratih sudah sibuk sebelum matahari benar-benar meninggi. Lantai rumah telah disapu, piring-piring bekas sarapan selesai dicuci, dan dapur kembali rapi. Masih ada satu rumah lagi yang harus ia datangi untuk membantu membersihkan sebelum akhirnya ia bisa berangkat mengikuti kegiatan di desa. Begitulah hari-hari Ratih berjalan.

Di komunitas Suku Anak Dalam (SAD), pekerjaan domestik menjadi bagian dari keseharian anak perempuan. Mengurus rumah bukan sekadar membantu orang tua, tetapi juga menjadi tanggung jawab yang melekat sejak mereka masih kecil. Karena itu, ketika Ratih mulai sering mengikuti kegiatan di luar rumah, tidak semua orang langsung memahami pilihannya.

Beberapa kali ia harus meminta izin pulang lebih awal ketika kegiatan masih berlangsung. Bukan karena tidak ingin belajar, melainkan karena makan siang keluarga belum dimasak dan pekerjaan rumah masih menunggu.

Ulvi, pendamping komunitas, masih mengingat masa-masa itu. “Kalau sudah mendekati siang mereka mulai gelisah. Mereka bilang harus pulang karena belum masak atau belum cuci piring.”

Alih-alih meminta mereka memilih antara rumah atau kegiatan, Ulvi justru mengajak mereka mencari cara agar keduanya tetap bisa berjalan. Mereka mulai membiasakan menyelesaikan pekerjaan rumah sejak pagi, sebelum mengikuti pelatihan atau pertemuan komunitas. Cara sederhana itu perlahan mengurangi keberatan keluarga. Mereka tetap menjalankan tanggung jawab di rumah, tetapi juga memiliki ruang untuk belajar.

Ratih termasuk yang paling tekun mengikuti setiap kegiatan. Di dalam forum ia tidak banyak bicara. Ia lebih sering duduk mendengarkan sambil mencatat hal-hal yang dianggap penting. Namun setiap kali ada kegiatan berikutnya, Ratih selalu datang kembali. Perubahan pada dirinya tidak terjadi sekaligus.

Ia tidak tiba-tiba menjadi sosok yang berani berbicara di depan banyak orang. Yang lebih dulu berubah justru kepercayaan dirinya untuk mengambil peran di lingkungan terdekat. Sedikit demi sedikit Ratih mulai mengajak warga di rombongnya mengikuti kegiatan Posyandu setiap bulan. Rombong Badai yang terdiri dari tujuh kepala keluarga tidak lagi harus didatangi satu per satu oleh pendamping. Ratih membantu menyampaikan informasi dan mengingatkan jadwal kegiatan kepada mereka.

“Kalau sekarang saya tidak perlu lagi mendatangi semua warga,” kata Ulvi. “Ratih sudah membantu mengajak mereka.”

Foto: Ulvi Monica Aulia/Pundi Sumatra

Saat itu Ratih masih duduk di bangku kelas dua SMP. Perubahan serupa juga dialami Ita dan Siska. Berbagai ruang belajar yang mereka ikuti selama pendampingan tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga memperluas kepercayaan masyarakat kepada mereka. Siska, misalnya, kini mulai memahami alur pengurusan administrasi kependudukan. Warga yang hendak mengurus dokumen kependudukan tidak lagi selalu mencari pendamping. Mereka mulai datang kepada Siska untuk bertanya mengenai syarat-syarat administrasi yang harus disiapkan.

Kepercayaan itu ternyata sampai juga kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Bungo dan Puskesmas Rantau Kloyang. Saat pemerintah mulai menjalankan Program Advokasi Pelaksanaan Intervensi Malaria pada Masyarakat Mobile and Migrant Population (MMP), mereka membutuhkan kader yang berasal dari komunitas Suku Anak Dalam. Masyarakat SAD dipandang memiliki risiko lebih tinggi terhadap malaria karena sebagian aktivitas mereka masih dilakukan di kawasan hutan melalui tradisi bemalom.

Nama pertama yang muncul justru Ulvi. Namun ia menolak. “Kalau saya yang jadi kader, nanti saya sering di luar desa. Lebih baik kader-kader saya saja. Mereka yang sudah mengenal masyarakat dan bisa menjalankan tugas ini.”

Usulan itu sempat disambut keraguan. Petugas kesehatan belum sepenuhnya yakin bahwa perempuan muda dari komunitas SAD mampu menjalankan tugas sebagai kader malaria. Setelah beberapa kali berdiskusi, akhirnya pemerintah desa menerbitkan Surat Keputusan bagi Ratih, Ita, dan Siska sebagai kader malaria.

Bagi ketiganya, itu adalah pengalaman baru. Mereka mengikuti pelatihan mengenai malaria, mulai dari cara penularan, pencegahan, pendataan, hingga pendampingan minum obat. Ratih yang sebelumnya jarang berbicara kini harus berdiri di depan warga untuk menjelaskan mengapa obat malaria harus diminum sampai tuntas. Tugas itu ternyata tidak mudah.

Selama bertahun-tahun masyarakat SAD lebih akrab menggunakan tanaman obat yang diperoleh dari hutan untuk mengobati berbagai penyakit. Kini banyak tanaman itu semakin sulit ditemukan seiring berkurangnya kawasan hutan. Di sisi lain, pengobatan malaria harus dilakukan sesuai aturan. Obat harus diminum selama tiga hari berturut-turut agar pengobatan berhasil.

Karena itulah pekerjaan Ratih, Ita, dan Siska tidak berhenti setelah penyuluhan selesai. Mereka kembali mendatangi rumah-rumah warga, memastikan obat diminum sesuai jadwal, mencatat perkembangannya, lalu melaporkannya kepada petugas kesehatan. Untuk membangun kepercayaan masyarakat, tenaga kesehatan bahkan memperkenalkan mereka secara langsung dalam setiap kegiatan sosialisasi.

“Kalau Ratih, Ita, dan Siska yang datang, dengarkan mereka. Mereka kader kami.”

Kalimat itu sederhana, tetapi membawa perubahan besar. Warga mulai menerima kehadiran mereka bukan hanya sebagai anak-anak muda di komunitas, melainkan sebagai orang yang dipercaya membantu menjaga kesehatan masyarakat. Pekerjaan mereka pun berjalan semakin lancar. Pendataan dilakukan secara rutin. Jadwal pembagian obat lebih tertata. Pengawasan minum obat menjadi lebih mudah karena dilakukan oleh orang-orang yang hidup bersama komunitas itu sendiri.

Bagi Ratih, Ita, dan Siska, insentif yang mereka terima sebagai kader memang membantu menambah penghasilan. Namun yang lebih berarti adalah tumbuhnya kepercayaan terhadap kemampuan mereka. Beberapa tahun lalu mereka masih harus bernegosiasi agar diizinkan mengikuti kegiatan di luar rumah. Hari ini mereka justru dipercaya oleh pemerintah untuk menjalankan salah satu program kesehatan masyarakat di komunitasnya sendiri.

Perubahan itu tidak terjadi dalam semalam. Ia tumbuh perlahan, dimulai dari ruang-ruang belajar yang sederhana, dari keberanian menyelesaikan pekerjaan rumah lebih pagi agar bisa mengikuti pelatihan, dari kepercayaan seorang pendamping yang memilih memberi kesempatan kepada kadernya, hingga akhirnya diakui oleh masyarakat dan pemerintah.

Dan bagi ketiga perempuan muda Suku Anak Dalam itu, kepercayaan tersebut menjadi langkah baru untuk mengambil peran yang sebelumnya tidak pernah mereka bayangkan.

Penulis :