Bertahan Hidup dari Rautan Rotan

Oleh: Bambang Sagurung, YCMM

Matahari belum terlalu tinggi ketika Neubuk (69) mulai duduk di beranda rumah kayu anaknya di Dusun Ukra, Desa Malancan, Kecamatan Siberut Utara, Kepulauan Mentawai. Di tangannya tergenggam sebuah pisau raut tradisional—alat yang telah menemaninya selama puluhan tahun dan kini menjadi salah satu peninggalan paling berharga dari almarhum suaminya.

Di hadapannya, beberapa bilah rotan yang telah dibelah dan dijemur tersusun rapi. Dengan gerakan yang pelan namun mantap, ia mulai meraut permukaan rotan, membersihkan serat-serat kasarnya hingga menjadi lembaran tipis yang siap dianyam.

Tidak ada gerakan yang terburu-buru. Setiap tarikan pisau memperlihatkan kebiasaan yang sudah dilakukan berulang kali selama hidupnya.

“Amareuan,” katanya singkat sambil tersenyum.

Sudah lama.

Minggu malam pertengahan Juli itu, Neubuk sedang berusaha menyelesaikan dua buah oorek, keranjang punggung khas Mentawai yang biasa digunakan untuk membawa hasil kebun atau kebutuhan sehari-hari.

“Kalau dua ini selesai, saya dapat Rp220 ribu,” ujarnya.

Jumlah itu mungkin terdengar kecil. Namun bagi Neubuk, uang tersebut bukan sekadar hasil penjualan sebuah kerajinan. Uang itu adalah tabungan ketika tubuhnya sakit, biaya membeli obat yang tidak ditanggung BPJS, serta cadangan ketika persediaan makanan di rumah mulai habis.

Di usia yang hampir menginjak tujuh puluh tahun, Neubuk tidak lagi menganyam hanya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Anyaman kini menjadi salah satu cara mempertahankan hidup.

Bagi masyarakat Mentawai, menganyam bukanlah keterampilan yang dipelajari melalui pelatihan singkat. Ia merupakan pengetahuan yang diwariskan lintas generasi, tumbuh bersama kehidupan sehari-hari masyarakat adat.

Laki-laki maupun perempuan sama-sama menguasai teknik menganyam, tetapi dengan fungsi yang berbeda. Perempuan umumnya membuat perlengkapan rumah tangga seperti wadah penyimpanan dan peralatan dapur. Sementara laki-laki membuat perlengkapan untuk berburu, berladang, maupun aktivitas di hutan.

Pengetahuan itu tidak berhenti pada teknik menganyam. Masyarakat Mentawai juga memiliki pengetahuan ekologis yang diwariskan turun-temurun mengenai cara memilih rotan tanpa merusak keberlanjutan hutan. Rotan yang dipilih bukan sembarang rotan.

Hanya rotan yang benar-benar tua yang dipanen. Mereka mengenalinya dari ukuran batang yang telah memanjang hingga puluhan meter, tekstur yang lebih keras karena kadar airnya mulai berkurang, serta warna yang menunjukkan kematangan serat. Rotan tua menghasilkan anyaman yang lebih kuat, lebih lentur, dan lebih tahan lama.

Sebaliknya, rotan yang masih muda akan dibiarkan tumbuh. Membiarkannya hidup berarti menjaga persediaan bahan baku bagi generasi berikutnya. Pengetahuan semacam ini menjadi bagian dari cara masyarakat Mentawai menjaga keseimbangan antara kebutuhan hidup dan kelestarian hutan.

Foto: Yael Stefany/KEMITRAAN

Dulu, Neubuk tidak pernah membayangkan bahwa mencari rotan bisa menjadi pekerjaan paling melelahkan dalam proses menganyam. Saat masih tinggal di Kampung Gorottai, rotan tumbuh melimpah.

Ia hanya perlu berjalan sekitar 100 hingga 200 meter dari rumah. Dalam waktu satu hingga dua jam, ia sudah bisa membawa pulang cukup banyak rotan untuk dikerjakan. Kini situasinya berbeda.

Sejak pindah ke Dusun Ukra sekitar setahun lalu, Neubuk justru harus menghabiskan waktu seharian keluar masuk hutan hanya untuk mencari beberapa batang rotan. Ia harus berjalan berkilometer jauhnya, sering kali pulang dengan hasil yang tidak seberapa.

“Leleu iki tak kuagai,” katanya.

“Hutan di sini belum saya pahami.”

Kesulitan itu bukan hanya karena ia belum mengenal wilayah hutan di tempat tinggal barunya. Bentang alam Dusun Ukra juga telah berubah. Pembukaan lahan yang semakin masif membuat kawasan tempat rotan biasa tumbuh semakin berkurang. Di sisi lain, hadirnya pengepul rotan memperparah keadaan. Menurut warga, rotan dipanen tanpa membedakan usia tanaman—baik rotan tua maupun rotan muda diambil sekaligus.

Akibatnya, stok rotan untuk tumbuh kembali semakin sedikit. Padahal, dalam pengetahuan masyarakat adat Mentawai, mengambil rotan muda berarti menghilangkan persediaan bahan baku di masa depan. Perubahan itu perlahan membuat keterampilan menganyam tidak lagi cukup hanya mengandalkan kemampuan tangan.

Kini, tantangan terbesarnya justru dimulai sejak mencari bahan. Tiga hari untuk satu anyaman Sebelum menjadi sebuah keranjang, rotan harus melewati proses yang panjang. Batang rotan dipotong, kemudian dibelah menjadi ukuran sekitar tiga hingga lima sentimeter. Setelah itu dijemur hingga kadar airnya berkurang. Barulah Neubuk mulai merautnya. Waktu meraut pun tidak bisa sembarangan.

Ia memilih pagi atau malam hari karena pada saat itulah rotan terasa lebih lunak sehingga tidak mudah patah. Ketika siang, rotan menjadi lebih keras dan berisiko rusak saat diraut.

Setelah semua bilah rotan siap, proses menganyam baru dimulai. Seluruh tahapan itu membutuhkan sekitar tiga hari untuk menyelesaikan satu produk. Dalam satu bulan, Neubuk biasanya hanya menerima satu hingga dua pesanan. Produk yang dibuat juga tidak banyak. Ia hanya membuat oorek dan long ayam, wadah anyaman untuk membawa ayam.

Oorek berukuran besar dijual sekitar Rp120 ribu, ukuran kecil Rp110 ribu, sementara long ayam dijual antara Rp35 ribu hingga Rp50 ribu. Sejak mengikuti pendampingan Yayasan Citra Mandiri Mentawai (YCMM) melalui Program Estungkara pada awal 2026, Neubuk mulai kembali memproduksi anyaman untuk dijual.

Sebelumnya ia sempat ragu. Ia tidak yakin masih ada orang yang tertarik membeli hasil anyamannya. Melalui diskusi bersama pendamping dan dorongan dari anaknya, Japet, ia akhirnya memberanikan diri mencoba kembali.

Pesanan pertama datang dari warga sekitar desa. Selanjutnya, informasi tentang hasil anyaman Neubuk menyebar dari mulut ke mulut. Untuk pembeli di luar desa, YCMM membantu memperkenalkan hasil anyamannya sekaligus menyampaikan pesanan yang masuk.

Dari aktivitas itu, Neubuk memperoleh tambahan pendapatan sekitar Rp120 ribu hingga Rp575 ribu setiap bulan. Jumlah tersebut memang belum besar. Namun bagi perempuan lanjut usia yang tidak lagi memiliki penghasilan tetap, tambahan itu memberi ruang untuk mengambil keputusan atas kebutuhannya sendiri.

Akan tetapi, menganyam bukan satu-satunya pekerjaan Neubuk. Di rumah anaknya, ia tetap menjalankan berbagai pekerjaan domestik. Ketika Japet (anak Neubuk) dan suaminya pergi ke ladang yang berada di Kampung Gorottai—perjalanan yang mengharuskan mereka bermalam selama dua hari bahkan hingga satu minggu—Neubuk menjaga cucunya di rumah.

Ia memasak, membersihkan rumah, mengurus kebutuhan sehari-hari, hingga sesekali dibantu cucunya ketika pulang sekolah atau saat hari libur. Selain itu, Neubuk juga tetap berkebun. Karena keluarga mereka belum memiliki lahan sendiri di Dusun Ukra, mereka menyewa tanah milik orang lain untuk menanam ubi dan berbagai sayuran sebagai sumber pangan keluarga.

Seluruh pekerjaan itu berjalan bersamaan. Mengurus rumah, menjaga cucu, berkebun, mencari rotan, meraut, hingga menganyam. Semuanya dilakukan di usia yang tidak lagi muda. Bagi banyak perempuan adat, kerja produktif dan kerja perawatan tidak pernah benar-benar terpisah. Keduanya berlangsung dalam waktu yang sama dan saling menopang kehidupan keluarga.

Perpindahan Neubuk dari Kampung Gorottai bukanlah pilihan yang mudah. Perlahan-lahan kampung itu ditinggalkan warganya. Ketiadaan akses jalan menuju pusat desa membuat masyarakat semakin sulit menjangkau pendidikan, layanan dasar, maupun peluang ekonomi.

Satu per satu keluarga memutuskan pindah ke dusun lain, termasuk ke Sirilanggai, Ukra, dan Malancan yang berjarak sekitar lima hingga lima belas kilometer. Neubuk kemudian menyusul anaknya tinggal di Dusun Ukra setelah suaminya meninggal dunia.

“Kami sebenarnya punya rumah yang bagus, air bersih, dan tanah yang subur di sana,” kenangnya.

Namun tempat tinggal saja tidak cukup ketika akses menuju kehidupan yang lebih layak semakin terbatas.

Bagi Japet, kepindahan itu berarti memulai semuanya dari awal.

“Kami harus membangun rumah lagi, menanam di tanah pinjaman, dan bekerja apa saja yang bisa dikerjakan,” katanya.

Dalam situasi seperti itu, penghasilan dari anyaman Neubuk menjadi salah satu penyangga kebutuhan keluarga. Bagi Neubuk, menganyam tidak pernah sekadar membuat barang. Ia adalah hubungan antara manusia dan hutan. Tanpa hutan, tidak ada rotan. Tanpa rotan, pengetahuan menganyam perlahan menghilang. Tanpa pengetahuan itu, salah satu cara masyarakat adat bertahan hidup ikut terancam. Karena itu, ketika ditanya apa yang paling penting untuk masa depan, jawabannya sangat sederhana.

“Kau ta jago kam leleu. Leleu nen ibara purimanuaijan.”

“Kita harus menjaga hutan kita. Hutanlah yang memberi kita hidup.”

Kalimat itu bukan sekadar ajakan menjaga lingkungan. Bagi Neubuk, menjaga hutan berarti menjaga sumber pangan, menjaga pengetahuan leluhur, menjaga pekerjaan perempuan, dan menjaga kemungkinan bagi generasi berikutnya untuk tetap hidup dari alam tanpa menghabiskannya.

Di tangan Neubuk, setiap bilah rotan yang diraut bukan hanya berubah menjadi anyaman. Ia juga menjadi pengingat bahwa keberlangsungan hidup masyarakat adat selalu dimulai dari hutan yang tetap terjaga.

Penulis :