Oleh: Ani Safitri, KKI Warsi
Tinis adalah seorang perempuan dari masyarakat adat Talang Mamak yang tinggal di Dusun Simarantihan, kawasan Bukit Tiga Puluh, yang secara administratif berada di Desa Suo-Suo, Kecamatan Sumay, Kabupaten Tebo. Ia adalah ibu dari lima orang anak, empat di antaranya masih bersekolah di Sekolah Dasar kelas jauh di desanya. Sebagai seorang ibu, Tinis memikul tanggung jawab besar dalam memastikan kebutuhan keluarga tetap terpenuhi, mulai dari kebutuhan pangan hingga pendidikan anak-anaknya.
Sehari-hari, Tinis bekerja sebagai penyadap karet di tiga titik kebun yang berbeda. Pekerjaan itu menjadi sumber utama penghasilan keluarganya. Namun sebelum berangkat bekerja, ia terlebih dahulu menyelesaikan berbagai pekerjaan domestik seperti memasak, mencuci, membersihkan rumah, serta menyiapkan kebutuhan suami dan anak-anaknya. Rutinitas ini telah lama menjadi bagian dari kehidupannya sebagai perempuan adat yang menjalankan peran ganda—mengurus rumah tangga sekaligus mencari penghasilan untuk keluarga. Kondisi ini menunjukkan beban ganda yang masih kuat dialami perempuan, di mana tanggung jawab domestik tetap melekat meskipun perempuan juga berkontribusi dalam ekonomi keluarga.
Di tengah kerja keras tersebut, Tinis menghadapi tantangan besar dalam memenuhi kebutuhan pangan keluarganya. Berbeda dengan sebagian masyarakat Talang Mamak lainnya yang memiliki huma atau ladang sendiri, Tinis beberapa tahun ke belakang tidak berladang sehingga tidak ada ruang kelola untuk mengembangkan tanaman pangan. Selama ini ia hanya bisa menumpang bercocok tanam di huma/ladang milik saudara laki-lakinya, Hermanto. Di huma itulah Tinis menanam berbagai tanaman pangan seperti sayur dan cabai untuk membantu memenuhi kebutuhan makan keluarganya. Namun keterbatasan akses terhadap lahan membuatnya sulit mengembangkan sumber pangan secara mandiri, terlebih dengan lima orang anak yang harus dipenuhi kebutuhan hariannya. Kondisi ini memperlihatkan bagaimana akses terhadap sumber daya, seperti lahan, masih dipengaruhi oleh relasi gender dalam komunitas.
Perubahan mulai muncul ketika WARSI melalui program ESTUNGKARA melakukan pendampingan terhadap kelompok perempuan di komunitas tersebut, termasuk melalui penguatan kapasitas anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Rimpahan Paloriyen Simarantihan. Tinis menjadi salah satu anggota yang aktif mengikuti kegiatan KWT. Melalui diskusi, pelatihan, dan proses berbagi pengalaman antar anggota, Tinis mulai melihat kemungkinan baru untuk memperkuat ketahanan pangan keluarganya dengan mengembangkan tanaman di pekarangan rumah.
Pemicu penting lain datang dari pengalaman nyata di komunitasnya sendiri. Tinis melihat bagaimana Kindok, satu-satunya laki-laki di dusun tersebut yang mengembangkan tanaman muda di pekarangan rumahnya. Kindok sebelumnya telah mengikuti pelatihan dan kunjungan belajar ke lokasi pertanian di Bogor saat mengikuti pelatihan yang diadakan oleh Kemitraan melalui program Estungkara. Praktik sederhana yang dilakukan Kindok tersebut membuka cara pandang baru bagi Tinis bahwa ruang di sekitar rumah pun dapat dimanfaatkan untuk bercocok tanam. Pekarangan yang sebelumnya dianggap hanya sebagai ruang kosong ternyata dapat menjadi sumber pangan keluarga.
Bagi Tinis, perubahan ini tidak terjadi secara instan. Ia harus menyesuaikan kebiasaan lama yang terbiasa menanam di huma ke pengembangan cara baru dengan memanfaatkan pekarangan rumah sebagai ruang tanam. Tantangan terbesar yang ia hadapi adalah pengolahan tanah, pencegahan hama, dan intensitas perawatan yang membutuhkan penyiraman. Berbeda dengan membuka huma secara tradisional yang lebih sederhana, menanam di pekarangan membutuhkan teknik pengolahan tanah yang berbeda serta pemahaman baru tentang budidaya tanaman.
Melalui pendampingan WARSI yang juga bekerja sama dengan Pusat Pertanian Perdesaan Swadaya (P4S) dan UPTD penyuluh pertanian Kecamatan Sumay di bawah naungan Dinas Tanaman Pangan Hortikultura Kabupaten Tebo, Tinis mengikuti berbagai pelatihan seperti pembuatan pupuk organik cair, pengendalian hama tanaman hortikultura, serta penguatan kapasitas perempuan agar lebih percaya diri berpartisipasi dalam kelompok dan forum diskusi perempuan. Pengetahuan yang ia peroleh dari berbagai kegiatan tersebut perlahan mulai ia praktikkan di rumah.
Dari proses belajar dan mencoba tersebut, Tinis akhirnya berhasil mengembangkan demplot kecil di pekarangan rumahnya seluas sekitar 10 x 5 meter. Pada tahun 2025, ia mulai menanam berbagai tanaman muda seperti kacang panjang, cabai, terong, dan sawi. Tanaman-tanaman tersebut tumbuh dengan baik hingga beberapa kali rotasi panen, dengan panen terakhir terjadi pada bulan Desember. Hasil tersebut tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan pangan keluarga, tetapi juga memberikan rasa percaya diri bahwa ia mampu mengelola sumber pangan secara mandiri meskipun tidak membuka ladang untuk behuma.
Perubahan yang dialami Tinis tidak hanya terlihat dari keberhasilannya menanam di pekarangan rumah, tetapi juga dari sikap dan kepercayaan dirinya. Jika sebelumnya ia merasa tidak memiliki kapasitas untuk berbicara dalam forum kelompok atau pertemuan komunitas, kini Tinis mulai aktif menyampaikan pendapat dan bertanya ketika mengikuti diskusi KWT maupun forum kelas perempuan. Ia tidak lagi hanya menjadi pendengar, tetapi mulai berbagi pengalaman tentang tantangan dan keberhasilannya dalam memanfaatkan pekarangan rumah sebagai ruang kelola pangan keluarga. Perubahan ini menunjukkan peningkatan kapasitas dan posisi perempuan dalam ruang partisipasi.
Pengalaman Tinis kemudian menjadi inspirasi bagi perempuan lain di komunitasnya. Ia menunjukkan bahwa keterbatasan akses terhadap ladang tidak harus menjadi penghalang untuk mengembangkan sumber pangan keluarga. Pekarangan rumah yang selama ini dianggap sebagai ruang domestik ternyata dapat menjadi ruang produksi yang memberi manfaat nyata bagi keluarga.
Bagi Tinis sendiri, perubahan ini berawal dari keinginannya untuk memperbaiki kehidupan keluarga dan masa depan anak-anaknya. Ia menyadari bahwa setiap kesempatan belajar yang datang merupakan jalan untuk memperkuat kemandirian diri dan komunitasnya. Dalam salah satu kesempatan Tinis pernah bercerita:
“Omak tidak akan pergi dari rumah kalau pekerjaan rumah belum selesai. Kalau sudah selesai barulah omak menderes karet, siangnya ke huma sampai sore. Kadang bapak kau cemburu karena omak sering ikut kegiatan. Tapi omak tidak putus asa dengan keadaan omak. Walaupun omak tidak bisa baca dan menulis, omak tetap datang kalau ada rapat. Omak tahu itu cara WARSI membantu masyarakat Talang Mamak supaya lebih maju pemikirannya dan ekonominya. Omak mau coba semua yang sudah diajarkan itu, dan memang hasil dari tanaman dekat rumah itu bukan untuk orang lain, tapi untuk omak dan keluarga omak sendiri.”
Cerita Tinis menunjukkan bahwa perubahan sering kali berawal dari langkah kecil yang konsisten. Pendampingan yang membuka ruang belajar, berbagi pengalaman, serta memperkuat kepercayaan diri perempuan dapat memunculkan inisiatif baru yang sebelumnya tidak terpikirkan. Bagi Tinis, pekarangan rumah yang dulu hanya menjadi bagian dari ruang domestik kini berubah menjadi ruang kelola yang memberi harapan bagi ketahanan pangan keluarganya. Lebih dari itu, perubahan ini juga memperlihatkan bagaimana perempuan adat dapat menjadi aktor penting dalam menjaga keberlanjutan hidup keluarga dan komunitasnya.