Oleh: Reinaldi, Yayasan Citra Mandiri Mentawai (YCMM)
Di Dusun Sagitci Tengah, Desa Nemnemleleu, Kepulauan Mentawai, babi bukan sekadar ternak. Dari sanalah biaya sekolah bisa dibayar, kebutuhan mendadak ditutup, atau persiapan pesta adat dipenuhi tanpa harus berutang. Hampir setiap keluarga memelihara babi, dan hampir di setiap rumah, perempuanlah yang paling sering berada di belakang kandang: memberi makan, membersihkan, memastikan ternak tetap hidup.
Selama ini, pekerjaan itu dianggap biasa karena bagian dari keseharian perempuan. Babi diberi makan sisa dapur, kandang seadanya, kesehatan jarang diperhatikan secara serius. Induk babi sering hanya melahirkan satu atau dua anak. Banyak ternak kurang sehat dan tidak laku dengan harga baik. Padahal, jika dikelola lebih terencana, ternak babi bisa menjadi sumber ekonomi yang jauh lebih kuat.
Perubahan mulai terasa ketika Yayasan Citra Mandiri Mentawai melalui Program Sipaumat datang dengan pendekatan yang sederhana: menggali siapa yang sebenarnya paling terlibat dalam pengelolaan ternak, dan jawabannya konsisten: perempuan.
Dari situlah lahir kelompok ternak perempuan Riu Riu Akek pada November 2024. Sepuluh perempuan bergabung. Masing-masing mendapat dua ekor babi dari dukungan aspirasi (pokir). Di wilayah ini sendiri sekitar 80 persen keluarga memiliki ternak babi, sehingga inisiatif ini bukan memperkenalkan hal baru, melainkan memperkuat praktik yang sudah lama ada.
Kelompok ini mulai belajar tentang kandang bersih, pakan yang lebih tepat, pencegahan penyakit, hingga vaksinasi, lewat pelatihan penguatan ekonomi. Pelatihan teknis ini difasilitasi oleh seorang pemuda desa bernama Arel Feltu, yang dulunya pernah mengikuti pelatihan peternakan di Sumatera Utara. Perannya sebagai penghubung pengetahuan sekaligus mantri menjadi penting, tetapi yang menjalankan perubahan sehari-hari tetaplah para perempuan itu sendiri.
Semenjak itu, kelompok perempuan Riu Riu Akek lebih teliti. Kandang dibersihkan lebih rutin. Pakan tidak lagi sekadar sisa dapur jika ternak memang diproyeksikan untuk dijual. Jika ada tanda-tanda sakit, mereka berdiskusi dan segera mencari solusi. Perlahan, kesehatan ternak membaik dan produktivitas meningkat.
Di banyak rumah tangga anggota Riu Riu Akek, keputusan menjual ternak berada di tangan perempuan. Suami membantu, terutama dalam pekerjaan fisik. Ini menunjukkan bahwa dalam konteks ternak, perempuan sudah memiliki ruang pengambilan keputusan yang cukup kuat.
Namun, di balik itu, pembagian peran di rumah belum tentu sepenuhnya setara. Para anggota mengatakan mereka tidak merasa terbebani. Mengurus ternak memang sudah menjadi bagian dari keseharian mereka, bersamaan dengan memasak, mencuci, dan mengurus anak. Tetapi kesadaran gender mengingatkan kita bahwa rasa “tidak keberatan” tidak selalu berarti beban itu ringan atau sudah adil. Di titik inilah penguatan kesadaran gender terus dilakukan. Karena pendampingan tidak hanya berhenti pada aspek teknis peternakan. Diskusi tentang pembagian peran mulai diperkenalkan secara perlahan.
Beberapa anggota mulai merasakan perubahan kecil. Ada suami yang membantu membersihkan kandang atau menjaga anak saat istrinya menghadiri pertemuan kelompok. Meski belum merata, tanda-tanda ini menunjukkan bahwa perubahan ekonomi bisa menjadi pintu masuk untuk membicarakan keadilan peran di rumah tangga.
Di ruang yang lebih luas, pertemuan kelompok membuat perempuan lebih percaya diri berbicara. Mereka berdiskusi tentang harga jual, kesehatan ternak, hingga rencana pengembangan usaha. Pengalaman ini perlahan memengaruhi cara mereka hadir di forum desa. Mereka tidak lagi hanya berbicara soal urusan domestik, tetapi juga ekonomi dan perencanaan.
Akses terhadap layanan peternakan sebelumnya tidak selalu mudah dijangkau. Informasi tentang vaksin atau standar kesehatan ternak tidak rutin sampai ke dusun. Dengan adanya kelompok perempuan yang terorganisir, juga penguatan pengetahuan dari pendamping dan fasilitator, kebutuhan menjadi lebih jelas dan lebih mudah disuarakan. Mereka kini memiliki posisi tawar sebagai kelompok.
Perubahan paling terasa bukan hanya pada kondisi ternak yang lebih sehat, tetapi juga pada cara pandang. Babi tidak lagi dianggap sekadar tempat membuang sisa makanan, melainkan aset yang perlu dirawat dengan serius. Perempuan tidak lagi dilihat hanya sebagai “yang membantu”, tetapi sebagai pengelola utama.
Di Sipora Selatan, langkah ini memang masih berproses. Kelompok Riu Riu Akek telah menunjukkan bahwa ketika perempuan diberi ruang dan pengetahuan, ekonomi keluarga menjadi lebih terencana. Namun pekerjaan berikutnya adalah memastikan perubahan ekonomi ini berjalan seiring dengan perubahan relasi di dalam keluarga—agar penguatan perempuan tidak berarti penambahan beban, melainkan pembagian peran yang lebih adil dan saling mendukung.