Perjalanan Kabubul Mamila di Desa Kalamba

Oleh: Jumi Joz, Lembaga Bumi Lestari

Ketika tim KEMITRAAN datang ke kegiatan INKLUSI DAY dan cross learning di Desa Kalamba tahun 2024, saya merasa tidak nyaman karena belum ada hasil pendampingan yang bisa ditunjukkan. Saya menyadari bahwa selama ini pendekatan yang kami lakukan belum menghasilkan perubahan yang terlihat. Situasi itu mendorong saya untuk mengevaluasi kembali cara kerja yang selama ini saya lakukan di lapangan.

Saya kemudian teringat bahwa beberapa tahun sebelumnya pernah ada kelompok simpan pinjam di desa ini bernama Kabubul Mamila. Kelompok tersebut dibentuk oleh pemerintah desa, namun tidak bertahan lama karena tidak ada pendampingan lanjutan dan advokasi yang konsisten. Kelompok akhirnya bubar. Saya melihat bahwa meskipun kelompok itu tidak bertahan, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa masyarakat, khususnya para perempuan, pernah memiliki ruang untuk berorganisasi.

Saya memutuskan untuk menemui mantan ketuanya, Ibu Lingga Wandal. Dalam pertemuan itu kami membicarakan alasan kelompok sebelumnya tidak berjalan dan kemungkinan untuk mengaktifkannya kembali. Ibu Lingga mengakui bahwa kelompok simpan pinjam sempat membantu anggota, tetapi tanpa pendampingan yang jelas, kegiatan berhenti. Dari diskusi tersebut saya menawarkan gagasan agar kelompok tidak hanya berfokus pada simpan pinjam, tetapi juga memiliki kegiatan ekonomi bersama agar ada perputaran yang lebih nyata.

Melalui pendekatan personal dan komunikasi yang intensif, Ibu Lingga bersedia membantu mengajak kembali para ibu untuk bergabung. Pada 5 Mei 2025, Kelompok Kabubul Mamila resmi terbentuk kembali dengan 13 anggota. Kami memulai dengan langkah sederhana: setiap anggota menyetor Rp50.000 sebagai modal awal sehingga terkumpul sekitar Rp600.000. Selain itu disepakati simpanan bulanan Rp5.000 per orang. Modalnya kecil, tetapi yang lebih penting adalah komitmen untuk memulai kembali.

Dalam proses awal, saya melihat bahwa kelompok membutuhkan figur internal yang bisa membantu menggerakkan anggota. Anita kemudian muncul sebagai kader yang aktif. Ia membantu mengorganisir pertemuan bulanan, mengingatkan anggota, dan mengelola pembukuan sederhana. Peran Anita sangat membantu karena kelompok tidak sepenuhnya bergantung pada saya sebagai pendamping.

Saat berdiskusi mengenai potensi ekonomi desa, saya memperhatikan bahwa sebagian besar masyarakat menanam kacang tanah, sayur, ubi, dan jagung. Dari situ muncul ide untuk mengolah kacang tanah menjadi kacang telur sebagai produk bernilai tambah. Saya mendiskusikan gagasan ini dengan Anita, lalu membawanya ke forum kelompok. Para anggota menyetujui untuk mencoba.

Kami memfasilitasi pelatihan pengolahan kacang dengan menghadirkan pelatih dari Waingapu, Ibu Dorce. Dalam pelatihan tersebut, Lembaga Bumi Lestari memberikan bantuan 10 kilogram kacang tanah beserta bahan pendukung lainnya. Lima kilogram diolah menjadi kacang telur dan lima kilogram menjadi kacang bawang. Dari proses tersebut dihasilkan 94 bungkus produk dengan total penjualan Rp865.000. Hasil penjualan itu kami gunakan kembali sebagai modal produksi berikutnya. Dari pengalaman pasar lokal, kami melihat bahwa kacang telur lebih diminati dibandingkan kacang bawang, sehingga kelompok memutuskan untuk fokus pada kacang telur.

Hingga akhir tahun, kelompok berhasil mengumpulkan keuntungan sekitar Rp1.000.000. Bagi saya, angka ini bukan sekadar nominal, tetapi indikator bahwa kelompok sudah mulai memiliki perputaran usaha. Mereka tidak lagi hanya menyimpan dan meminjam uang, tetapi juga memproduksi dan menjual.

Namun perjalanan ini tidak tanpa kendala. Tantangan utama adalah ketersediaan bahan baku. Kacang tanah bergantung pada musim tanam. Ketika stok hasil panen anggota habis dan belum memasuki masa panen berikutnya, kelompok harus membeli kacang dari warga desa dengan harga Rp35.000 per kilogram. Setiap bulan kami biasanya membeli dua kilogram kacang tanah serta bahan tambahan seperti tepung dan minyak. Total biaya pembelian bahan bisa mencapai sekitar Rp250.000. Kondisi ini membuat keuntungan yang diperoleh tidak terlalu besar.

Kelompok juga belum memiliki kebun kacang bersama sehingga masih bergantung pada lahan pribadi anggota atau pembelian dari luar. Saya menyadari bahwa ketergantungan ini menjadi risiko jika kelompok ingin meningkatkan produksi. Selain itu, diskusi dalam kelompok masih banyak berfokus pada pendapatan dan perputaran modal. Saya belum maksimal memfasilitasi pembahasan mengenai pembagian kerja di rumah tangga atau penguatan posisi perempuan di luar aspek ekonomi.

Meski demikian, saya melihat perubahan yang nyata. Kelompok yang sebelumnya bubar kini kembali aktif dengan struktur yang lebih tertata. Pertemuan rutin berjalan, pembukuan mulai dikelola, dan anggota terlibat dalam pengambilan keputusan. Kepercayaan diri anggota perlahan tumbuh karena mereka melihat hasil konkret dari usaha bersama.

Bagi saya sebagai pendamping, proses ini mengajarkan bahwa perubahan tidak terjadi secara cepat. Menghidupkan kembali kelompok membutuhkan pendekatan personal, konsistensi, dan kesabaran. Tantangan yang muncul, terutama terkait bahan baku dan kapasitas produksi, menjadi pengingat bahwa pendampingan harus terus diperkuat. Perjalanan Kabubul Mamila masih panjang, tetapi fondasi untuk penguatan ekonomi perempuan di Desa Kalamba sudah mulai terbentuk dan perlu terus dijaga agar tidak kembali berhenti seperti sebelumnya

Penulis :