Melawan Stigma, Menari untuk Kasepuhan

Oleh: Fauzan Adima, RMI

Masyarakat adat Kasepuhan Pasir Eurih yang bermukim di Desa Sindanglaya, Kabupaten Lebak, Banten memiliki banyak macam seni tari. Salah satu jenis tarian rutin yang ditampilkan pada beberapa acara adalah Tari Sangkuriang Sunda. Tarian ini mengangkat cerita rakyat Jawa Barat yang dikenal dengan Legenda Tangkuban Parahu.

Tarian ini mengangkat cerita rakyat Jawa Barat yang dikenal dengan Legenda Tangkuban Parahu. Sebuah tarian yang menggambarkan kisah legenda Sunda tentang Sangkuriang dan Dayang Sumbi. Tarian ini biasanya menampilkan berbagai adegan, termasuk perseteruan antara Sangkuriang dan ibunya, Dayang Sumbi, serta upaya Sangkuriang untuk membuat perahu dan membendung sungai. Sangkuriang dan Dayang Sumbi yang pada akhirnya dapat menemukan kedamaian dan saling memahami, meskipun dengan kesedihan yang mendalam. Tarian ini tidak hanya menggambarkan cerita Sangkuriang, tetapi juga menyampaikan pesan moral dan nilai-nilai budaya Sunda yang kaya akan makna. Tarian berakhir dengan pesan moral tentang pentingnya menerima takdir, menghormati orangtua, dan tidak terlalu ambisius. 

Namun ada sisi lain dari para penari khususnya para perempuan yang selama ini melakoni seni kebudayaan ini. Menurut pengakuan dari beberapa pihak di komunitas, masih ada beberapa stigma dan anggapan negatif terhadap para perempuan yang melakoni peran sebagai penari di masyarakat adat Kasepuhan. Masyarakat menganggap secara pribadi gaya hidup dari para penari itu cenderung tidak sesuai dengan kebiasaan masyarakat. Gaya hidup yang dimaksud lebih kepada tampilan keseharian mereka yang berbeda dan lebih ekspresif dengan segala kreatifitasnya. Di antaranya ialah lebih sering berkumpul dan berkegiatan di luar rumah hingga malam hari untuk latihan menari, mewarnai rambut, dan memakai pakaian kekiniaan. Terlebih sebagian besar dari para penari tersebut merupakan perempuan muda yang secara budaya kasepuhan juga selama ini peran mereka terbatas dan posisinya dalam adat.

Hal ini menjadi salah satu keresahan dari para penari. Devi, salah satu remaja dari Kasepuhan Pasir Eurih yang menekuni seni tari ini merasakan keresahan tersebut. Devi dan beberapa temannya merasa tidak adil dengan adanya anggapan seperti itu dari masyarakat. Mereka selama ini sudah cukup berjasa dalam melestarikan warisan masyarakat adat Kasepuhan. Tidak jarang juga mereka menjadi kebanggaan warga Kasepuhan Pasir Eurih karena berhasil mementaskan tarian- tarian ini keluar desa. Hal itu membuat nama desa dan kampung mereka menjadi lebih dikenal oleh masyarakat luar secara luas.

Namun kini Devi dan teman-temannya merasa lebih percaya diri setelah banyak berdiskusi dengan Forum KAWAL dan Rimbawan Muda Indonesia (RMI) yang tergabung dalam Program Estungkara bersama KEMITRAAN. Devi pun diajakn untuk tampil dalam acara Diseminasi Film “Hutan, Mantan, dan Jalan Pulang” yang diadakan pada April 2025.

“Saya merasa sangat terharu bisa diajak ikut menampilkan tarian tradisional Kasepuhan bersama teman- teman dan merasa sangat diapresiasi dengan sambutan dari para tamu undangan yang terdiri dari warga lokal maupun teman- teman yang datang dari Jakarta,” ujar Devi.

Devi dan teman- temannya menjadi sangat termotivasi karena hal tersebut.  Ke depannya ia tidak lagi merasa stigma negatif yang mereka dapatkan dari beberapa warga menjadi penghalang mereka untuk terus berkarya untuk memajukan kebudayaan lokal Kasepuhan.

“Kami akan tersu membawakan tarian adat Kasepuhan agar kesenian ini bisa dikenal oleh masyarakat baik di ruang lingkup wilayah Kasepuhan maupun di luar Kasepuhan secara luas,” tutur Devi.

Penulis :