Oleh: Hesti Julianawati, KKI Warsi
Sebelum ekspansi perkebunan sawit menguasai ruang hidup mereka, Orang Rimba Rombong Ngilo memiliki hubungan yang kuat dengan hutan sebagai sumber pangan. Perempuan berperan penting dalam sistem tersebut. Mereka mengumpulkan sayur, umbi, dan tanaman obat dari hutan, sekaligus mengelola bahan pangan untuk kebutuhan rumah tangga. Dalam situasi itu, dapur tidak bergantung pada pasar. Pangan tersedia dari lingkungan sekitar dan pengetahuan lokal diwariskan melalui praktik sehari-hari.
Perubahan terjadi ketika hutan semakin menyempit dan digantikan oleh perkebunan sawit. Tanaman sawit tidak dapat dikonsumsi langsung, sehingga kebutuhan pangan keluarga menjadi bergantung pada pembelian di pasar. Ketika harga cabai dan sayuran meningkat, dampaknya langsung terasa pada konsumsi rumah tangga. Pada saat yang sama, stigma sosial membuat hasil tanam Orang Rimba sering dihargai lebih rendah ketika dijual. Ketergantungan terhadap pasar meningkat, sementara kontrol terhadap sumber pangan sendiri menurun.
Upaya pertanian pernah dilakukan pada tahun 2020 melalui sekolah lapang pertanian melalui pendampingan lembaga lain. Saat itu, hasil panen cukup baik dan sebagian dapat diperjualbelikan. Namun keterbatasan akses pasar dan harga jual yang rendah membuat semangat bertani menurun. Kegiatan tersebut akhirnya tidak berlanjut. Pengalaman tersebut meninggalkan kesan bahwa bertani belum tentu memberikan kepastian.
Pada November 2025 melalui KKI Warsi, sekolah lapang pertanian dimulai kembali dengan pendekatan yang lebih sederhana dan bertahap. Proses ini tidak dimulai dari skala besar, melainkan dari rumah ke rumah melalui penanaman cabai menggunakan polybag. Setiap keluarga menerima tiga hingga lima polybag dengan harapan tanaman dapat dirawat secara mandiri. Setelah dua minggu, hasilnya menunjukkan bahwa hanya dua keluarga yang berhasil merawat tanaman hingga berbuah. Sebagian besar bibit rusak atau mati. Ini diakibatkan ternak sapi yang sering memakan tanaman, anak-anak merusak bibit tanpa sengaja saat bermain, dan tidak ada jaring pelindung untuk mengamankan tanaman.
Kondisi tersebut tidak langsung dianggap sebagai kegagalan, tetapi menjadi bahan diskusi bersama. Perempuan, yang sehari-hari merawat tanaman, menyampaikan kendala yang mereka hadapi. Dari percakapan itu muncul kesadaran bahwa model individu sulit bertahan dalam kondisi lingkungan yang terbuka. Disepakati untuk beralih ke sistem kolektif dengan memanfaatkan lahan di sebelah gereja, sekitar 20 x 50 meter, yang sebelumnya dihibahkan pemerintah desa ketika Orang Rimba dimukimkan agar lebih mudah mengakses layanan dasar sebagai warga Desa Pauh Menang.
Peralihan ke sistem kolektif mengubah cara kerja. Laki-laki mulai terlibat aktif dalam pekerjaan teknis seperti membersihkan lahan, membajak tanah, memasang jaring waring, dan membuat bedengan. Kegiatan dilakukan terutama pada hari Kamis, Sabtu, dan Minggu sore, menyesuaikan waktu luang dari aktivitas mengutip berondolan sawit yang biasanya dilakukan bersama oleh suami, istri, dan anak. Perempuan tetap berperan dalam penanaman, perawatan, dan penentuan waktu panen. Dalam praktiknya, perempuan yang memutuskan kapan tanaman dipanen dan bagaimana hasilnya dibagi.
Empat bedengan ditanami cabai, kangkung, bayam, dan jagung, sementara sebagian lahan ditanami ubi kayu. Target kali ini tidak berorientasi pada penjualan, melainkan pada pemenuhan kebutuhan dapur. Namun berbagai tantangan muncul selama proses. Hama daun dan serangga akar menyerang jagung. Angin kencang menyebabkan sebagian batang tumbang. Monyet merusak tanaman. Kangkung yang ditanam terlalu rapat sehingga tumbuh kerdil, dan bayam tidak tumbuh sama sekali. Hasil panen pertama terbatas, sekitar sepuluh ikat kangkung dan satu ember besar jagung. Dari 17 kepala keluarga, setiap rumah menerima dua ikat kangkung yang cukup untuk konsumsi dua hari.
Secara ekonomi, pertanian ini belum mampu menggantikan pendapatan dari berondolan sawit. Mereka tetap bergantung pada sawit untuk memperoleh uang tunai dan membeli beras. Namun terdapat pengurangan pengeluaran untuk pembelian sayur. Dalam situasi di mana mereka terkadang hanya makan satu hingga dua kali sehari, tambahan sayur selama dua hari menjadi perubahan yang berarti. Proses ini juga menjadi ruang pembelajaran terkait pengetahuan pertanian tradisional. Untuk mengatasi hama daun, dicoba penggunaan daun bintaro sebagai alternatif pengendali alami. Akar jagung diperkuat dengan penyangga kayu. Bibit cabai mereka diamkan dua minggu dulu untuk memastikan pertumbuhan sebelum dipindahkan. Kesalahan jarak tanam menjadi pelajaran untuk musim berikutnya.
Perubahan yang terlihat bukan hanya pada hasil panen, tetapi pada cara mereka bekerja. Pertanian tidak lagi dilakukan sendiri-sendiri, melainkan melalui kerja bersama yang terjadwal. Solidaritas tumbuh karena proses dikerjakan secara kolektif. Perempuan kembali memiliki ruang dalam pengelolaan pangan rumah tangga melalui keputusan panen dan distribusi hasil. Anak-anak mulai terlibat dalam kegiatan menanam, sehingga pemahaman tentang sumber pangan tidak hanya berasal dari pasar.
Kegiatan ini belum sepenuhnya menyelesaikan persoalan ketergantungan ekonomi terhadap sawit. Hasil tanam masih terbatas dan risiko cuaca maupun hama tetap ada. Namun proses yang berjalan menunjukkan perubahan bertahap. Mereka tidak lagi memulai dari ketergantungan penuh pada pasar, melainkan dari upaya memperkuat dapur secara perlahan. Pengalaman kegagalan pada tahap awal tidak menghentikan proses, tetapi menjadi dasar perbaikan metode dan penguatan kerja kolektif.
“Pertanian ini gak cukup sampai saat ini aja dan semoga bisa berkelanjutan. Gak harus menanam yang besar terpenting hasilnya ada dulu,” ujar induk Rahana, sekretaris sekolah lapang.
Dengan kondisi yang masih terbatas, Rombong Ngilo sedang membangun kembali praktik bertani yang sempat terhenti. Perubahan yang terjadi pelan tapi pasti. Fokus utama saat ini adalah konsistensi, perbaikan teknik, dan keberlanjutan kelompok. Kemandirian pangan belum sepenuhnya tercapai, tetapi langkah-langkah yang dilakukan menunjukkan bahwa pengurangan ketergantungan terhadap pasar dapat dimulai dari skala kecil, melalui pembelajaran yang terus diperbaiki dari waktu ke waktu.