Oleh: Bambang Sagurung, YCMM
Suara riuh dari belakang mobil pick-up dengan nomor polisi BA 8025 UAU terdengar semarak saat menjemput para pelajar SMPN 1 Siberut Utara dan SMAN 1 Siberut Utara menuju Pokai dan Sirilanggai. Mereka dijemput dengan mobil pick up angkutan desa yang didesain untuk mengangkut para pelajar.
Puluhan pelajar laki-laki dan perempuan terlihat riang. Hari itu, di minggu kedua Februari 2025, mereka dijemput secara gratis. Ini menjadi momen pengenalan awal bagi pelajar di mana pemerintah desa melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) memberikan layanan transportasi bagi mereka.
Kepala Desa Malancan Jalimin pada awal Februari 2025 dalam Musyawarah Rencana Pembangunan Desa (Musrenbangdes) 2026 telah mencanangkan layanan transportasi bagi pelajar dengan menggunakan mobil BUMDes. Hal itu juga berlaku bagi masyarakat yang sakit atau ibu melahirkan.
“Untuk ongkos dikenakan Rp 5.000 sebagai pengganti bensin mobil saja,” katanya pada saat itu.
Kebijakan ini diambil kepala desa sebagai bentuk kontribusi pemerintah melalui BUMDes kepada masyarakat dalam meringakan biaya pendidikan. Kebijakan ini juga diambil dalam rangka mencegah terjadinya tindak kekerasan terhadap anak khususnya bagi perempuan.
“Sejak 2023 desa kita didampingi oleh Yayasan Citra Mandiri Mentawai (YCMM) melalui Program Estungkara dengan fokus pada anak, perempuan dan kelompok marginal. Kita melihat desa dapat berkontribusi dalam bentuk apa pada kelompok ini sesuai dengan kewenangan kita. Salah satunya kita melihat pencegahan kekerasan dan meringankan biaya Pendidikan,” jelas dia.
Jalimin mengatakan selama ini Desa Malancan terdengar dari sisi negatifnya saja. Diharapkan dengan adanya transportasi untuk pelajar dapat mencegah terjadinya kasus kekerasan seksual dan membantu biaya transportasi para pelajar.
Bila menggunakan jasa ojek dari Sikabaluan ke Pokai, para pelajar harus merogoh kocek Rp 30.000 sekali jalan. Sedangkan dari Sikabaluan ke Sirilanggai dipatok Rp 50.000 – Rp 60.000 ribu sekali jalan. Dengan adanya kebijakan dari pemerintah desa, orangtua cukup mengeluarkan biaya Rp 10.000 per anak.
Pelajar dari Desa Malancan seperti di Dusun Ukra, Sirilanggai dan Sibeuotcun akan dijemput dan diantar hingga ke Sirilanggai karena sudah adanya akses jalan darat. Sementara pelajar dari Dusun Sinaki, Langgurek, Kelakbunda, Bakla dan Malancan akan dijemput dan diantar hingga ke Pokai oleh mobil pick up, kemudian dilanjutkan dengan menyeberang laut menggunakan perahu. Pemerintah desa juga sudah menyediakan perahu gratis bagi masyarakat dan pelajar pada Senin – Jumat di jam kantor serta pada hari dan jam lainnya bila ada kebutuhan dan mendesak. Misalnya seperti merujuk orang sakit dari Pondok Bersalin Desa (Polindes)ke rumah sakit atau mengantarkan ibu melahirkan.
Kebijakan yang dibuat kepala desa disambut baik dan dirasakan manfaatnya oleh para orangtua. Sebut saja Wati (32) salah seorang ibu rumah tangga yang sangat terbantu oleh bantuan transportasi yang diberikan pemerintah desa. Selain biaya yang murah, saat berangkat sekolah pelajar dapat membawa bahan makanan atau keperluan selama satu minggu untuk di asrama, kos atau pondokan. Seperti persediaan kayu api, pisang, ubi kayu, dan lainnya.
“Kami juga tidak khawatir karena mereka dijemput dan diantar secara serentak”, katanya.
Rutty (15) salah seorang pelajar SMAN 1 Siberut Utara asal Desa Malancan mengatakan setiap Sabtu atau libur mereka tinggal menunggu mobil jemput di dekat sekolah karena ada beberapa pelajar yang tinggal di asrama milik sekolah. Begitu juga dengan yang lainnya, mereka tinggal menunggu di pondokan atau kos dan bisa berkumpul bersama.
“Hari minggu juga begitu. Mobil berangkat dari Sirilanggai menuju Pokai untuk menjemput kami lalu ke Sikabalua,” kata dia.
Sekretaris Desa Malancan Juniardi Sakelakasak mengatakan untuk 2025 ada dua kebijakan yang dikeluarkan kepala desa untuk memihak pada anak, perempuan dan kelompok marginal. Pertama, memberikan layanan transportasi pada anak sekolah dari Desa Malancan yang melanjutkan pendidikan di Sikabaluan dan penyediaan perahu secara gratis khususnya bagi ibu hamil dan melahirkan.
Layanan trasnportasi untuk pelajar ini selain untuk meringakan biaya pendidikan juga dalam rangka mencegah terjadinya tidak kekerasan terhadap perempuan dan anak bila mereka tetap tinggal di asrama, kos atau pondokan saat libur. Sebabnya, dari pengalaman-pengalaman yang terjadi, banyak pelajar hamil di luar nikah saat berada di pondokan, kos, dan asrama ketika yang lainnya pulang saat libur.
“Jadi, orangtua sudah tahu pasti kalau setiap sabtu anak mereka itu dijemput dan diantar termasuk hari libur sekolah. Ketika mereka tidak pulang orangtua bisa tanya temannya yang sudah pulang atau bisa menghubungi pengawas, pemilik kos atau pondokan,” kata dia.
Kemudian layanan perahu gratis bagi orang sakit, ibu melahir dan masyarakat lainnya yang sifatnya mendesak, kepala desa pada awal 2025 sudah menunjuk operator perahu desa guna membantu layanan pemerintah desa dan masyarakat.
“Ini sejalan dengan memutus kasus ibu hamil dan anak lahir meninggal karena tidak melahirkan di fasilitas kesehatan dengan alasan biaya transportasi dan lainnya karena pada 2024 Malancan termasuk penyumbang kasus ibu hamil dan balita meninggal,” kata dia.
Ketika ada warga yang sakit atau melahirkan yang tidak bisa ditangani di wilayah pusat Desa Malancan, petugas kesehatan atau keluarga pasien tinggal menghubungi operator perahu untuk diantar ke Pokai dan dijemput dengan mobil ambulans atau mobil BUMDes.
“Begitu juga dengan warga yang ada di Sirilanggai, Ukra dan Sibeuotcun. Mereka tinggal memanfaatkan mobil BUMDes karena mobilnya tersedia di sana,” tutur Juniardi.