Oleh: Sulawesi Cipta Forum (SCF)
“Kalau sudah jadi ci-i-o, pasti selalu sibuk,” kata Imran sambil terkekeh.
“Apanya yang sibuk? Orang lagi bertahan hidup ji ini,” balas Oda.
Malam itu, Gedung Sentra Gula Aren di Desa Bonto Manurung masih hidup. Dua perempuan menggiling gula merah ketak dengan bambu tua. Seorang pemuda membuka-tutup oven. Dari sebuah speaker di tengah ruangan, suara Elvy Sukaesih menyanyikan Gedung Tua mengalun sendu.
Oda duduk di depan lemari kaca berisi kemasan gula semut. Perempuan berusia tiga puluhan itu lalu mulai bercerita kepada Imran, fasilitator desa yang baru empat bulan bekerja di sana.
Perjalanan Oda ke titik itu tidak lurus. Ia pernah kuliah Agribisnis di Universitas Muslim Indonesia, Makassar. Orangtuanya, pedagang sapi, semula ingin ia menjadi polwan. Oda justru memilih pertanian, didorong kakaknya yang seorang polisi.
“Katanya, kalau saya kuliah pertanian, saya bisa pulang ke desa dan membuka lahan.”
Pada 2018, setelah menjadi sarjana, Oda benar-benar pulang ke Bonto Manurung. Desa di Kecamatan Tompobulu, Maros, itu baru keluar dari status desa tertinggal dua tahun kemudian. Listrik PLN masih terbilang baru, jalan belum seluruhnya baik, dan internet nyaris tak ada.
Justru soal internet itulah Oda mulai membuat perubahan.
“Saya sebenarnya tidak betah tinggal lama-lama di desa, bukan karena desanya, tapi karena tidak ada jaringan internet,” katanya.
Tetangganya di Maros kebetulan memiliki bisnis jaringan internet. Oda membawanya masuk ke desa. Ia mulai menjual voucher Wi-Fi, membuka akses yang sebelumnya nyaris tidak tersedia.
Keinginan sederhana untuk tetap terhubung dengan dunia luar perlahan mengubah cara warga Bonto Manurung berkomunikasi, mencari informasi, dan menggunakan telepon pintar. Oda memang tidak mengikuti pesan kakaknya untuk membuka lahan.
Ia memilih membuka jalan lain, menghubungkan desanya dengan dunia.
Pada Februari 2022, Pemerintah Kabupaten Maros menyampaikan rencana pembangunan Sentra Industri Gula Aren di Desa Bontomanurung. Gagasan itu lahir dari mimpi ingin menjadikan Tompobulu sebagai kawasan wisata dan gula aren sebagai salah satu buah tangan dari pegunungan Maros.
Setahun kemudian, Gedung Sentra Aren berdiri. Mesin-mesin didatangkan, seorang PNS ditunjuk sebagai penanggung jawab, dan suami Oda ikut diminta mengelolanya. Bayangannya besar. Gedung itu akan menjadi tempat gula aren naik kelas—dari bahan mentah menjadi produk dengan merek, masuk supermarket, dan menghasilkan uang lebih banyak bagi warga.
Tetapi cara kerja “orang kota” tidak serta-merta cocok dengan desa. Suami Oda mencoba menjalankan bisnis itu dengan cara yang diajarkan. Hasilnya justru jalan di tempat. Sepanjang 2023, Gedung Sentra lebih sering kosong daripada berproduksi. Malam hari, warga bahkan takut melewatinya. Gedung yang dibangun untuk menghidupkan ekonomi desa perlahan dianggap seperti bangunan mati.
Oda pun belum menemukan jawabannya. Saat itu ia masih sibuk dengan usaha yang dibangunnya melalui program YESS-IFAD. Sesekali ia ikut membicarakan kebuntuan usaha aren bersama suaminya.
Pada 2024, suaminya mendapat pekerjaan di Kolaka dan harus pergi. Oda merelakan mereka menjalani hubungan jarak jauh demi tiga anak mereka.
“Saya merestui suami kerja di sana, walau harus LDR. Setidaknya saya bisa lebih tenang lihat tiga anakku,” katanya sambil tertawa kecil.
Sebelum berangkat, suaminya mewariskan satu hal yakni cara menjalankan Gedung Sentra.
“Mengajari saya untuk lebih mandiri, lah.”
Hari pertama bekerja sendirian, Oda berdiri di tengah gedung yang nyaris kehilangan nyawanya. Cat putih mengelupas dari tembok yang retak. Debu menutup jendela-jendela berjeruji. Mesin-mesin berdiri tanpa banyak guna, sementara alat yang seharusnya menjadi tumpuan produksi justru menjadi benda asing.
“Itu alat-alat diletakkan saja. Dulu kita diajari buru-buru, akhirnya kita tidak tahu cara gunakan,” kenangnya.
Gedung itu punya cukup alasan untuk ditinggalkan. Tetapi Oda melihat sesuatu yang lain.Orang-orang yang menggantungkan hidup padanya. “Tulang-tulangku ini sudah remuk-remuk, tapi susah sekali saya mau tinggalkan ini gedung karena ada tulang punggung yang juga kerja di sini.”
Harapan membuat Oda terus mencari apa yang masih bisa diselamatkan dari Gedung Sentra. Ia membongkar-pasang mesin dengan modal sendiri, mencoba membuat gula semut dari dua bahan: larutan nira dan gula merah batok.
Hasilnya berbeda. Dari larutan nira, kristalnya lebih renyah dan manis. Dari gula batok, warnanya lebih gelap dan kristalnya lebih basah. Oda membayangkan gula semut dari nira akan mendatangkan keuntungan lebih besar. Masalahnya, membuatnya membutuhkan waktu lebih lama, sementara pasar tidak bisa menunggu.

Setiap hari ia menghitung ulang uang yang ada. Berapa untuk gas, listrik, bahan baku, dan upah pekerja.
“Tidak ada bantuan. Habis modalku belajar menggunakan alat-alat ini,” katanya.
Di tengah kebuntuan itu, Oda kerap menelepon suaminya di perantauan. Tetapi setelah telepon ditutup, gedung kembali sunyi. Tidurnya hanya sekitar empat jam. Anak-anaknya tumbuh jauh dari pandangan, sementara hari-harinya habis di antara mesin dan hitungan biaya.
Pada 2024, Oda bertemu Sultan, manajer Sulawesi Cipta Forum dalam Program Estungkara. Dalam sebuah percakapan yang menurut Oda berlangsung santai, bahkan sambil tertawa, Sultan mengatakan sesuatu yang mengusik pikirannya.
“Katanya cara saya berbisnis keliru.”
Oda tidak langsung tahu apa yang keliru. Ia merasa hampir semua yang dilakukannya di gedung itu memang belum benar. Belakangan ia mengerti. Selama ini ia mencoba menjual gula semut dengan mereknya sendiri dan berhadapan dengan distributor yang jauh lebih besar. Padahal, Sentra Aren tidak harus menjadi penjual paling depan. Ia bisa mengambil posisi sebagai pemasok bahan baku.
Perubahan posisi itu mengubah cara Oda bekerja. Ia kembali merakit mesin, mencoba, gagal, memperbaiki, lalu mencoba lagi. Selama beberapa minggu, produksi berjalan. Sampai bahan bakunya habis.
Di situlah persoalan yang lebih besar muncul. Nira dan gula aren memang tersedia di Bontomanurung dan Bontosomba, tetapi para petani sudah lebih dulu terikat dengan pedagang.
“Gula aren sebenarnya masih banyak di desa, tapi mereka memasok ke pedagang. Pedagang lebih dulu bikin perjanjian dengan petani,” kata Oda.
Pedagang punya cara yang lebih menarik bagi petani yaitu bayar tunai. Oda belum mampu menirunya. “Saya tidak bisa begitu.”
Pasar mulai terbuka, tetapi bahan baku tidak kunjung cukup. Oda kembali dihadapkan pada persoalan yang sama: bagaimana membuat Sentra tetap hidup tanpa membuat petani kehilangan alasan untuk menjual kepadanya.
Pada tahun yang sama, Program Estungkara mengadakan kegiatan Social Entrepreneurship yang mempertemukan pelaku usaha gula aren dengan sejumlah pemangku kepentingan. Dewi, yang selama setahun mengamati perkembangan usaha gula merah di Bontomanurung, ikut mendampingi proses itu.
Kegiatannya sederhana. Berlangsung di rumah-rumah bambu tak jauh dari Gedung Sentra, bahkan sesekali terganggu bau tajam limbah ayam potong. Dewi kelak mengingatnya sebagai kegiatan yang biasa saja. Oda justru membawa pulang sesuatu.
“Karena kegiatan itu, saya lebih berani bicara sama pedagang.”
Sejak itu Oda tidak lagi memaksakan diri membeli langsung dari petani. Ia memilih mengambil gula dari pedagang agar bahan baku tetap mengalir ke Sentra.
“Tidak apa-apa sedikit keuntungan, yang penting ada terus bahan baku.”
Pertemuan itu juga mempertemukannya dengan kepala dusun. Dari sana, cerita tentang Sentra mulai sampai kepada lebih banyak orang di desa.
“Kalau waktu itu saya tidak bertemu kepala dusun, mereka juga tidak akan tahu nasibnya Sentra. Padahal Sentra sebenarnya mau sekali membantu petani aren.”
Selepas kegiatan itu, Oda semakin aktif menemui dan membangun komunikasi dengan dua merek besar gula semut di Makassar. Ia tidak bekerja sendirian. Para kepala dusun ikut membantu memperkenalkan Gedung Sentra, sekaligus menyampaikan harga pembelian yang ditawarkan kepada para petani aren. Perlahan, kabar tentang adanya tempat penampungan dan harga yang lebih pasti mulai menyebar dari satu petani ke petani lainnya.
Dampaknya segera terasa. Penjualan yang sebelumnya sekitar 100 kilogram per hari meningkat menjadi 230 kilogram. Pasokan gula merah batok mulai berdatangan dan menumpuk di Gedung Sentra. Alat-alat yang sebelumnya seperti berdiri sendiri, bahkan sesekali tampak seperti tokoh antagonis dalam sebuah cerita, kini mulai menemukan perannya masing-masing. Tungku, mesin penggiling, tempat penjemuran, dan ruang penyimpanan bekerja bersama mengikuti ritme baru yang diciptakan oleh semakin banyaknya gula yang masuk.
Namun, bertambahnya pasokan berarti bertambah pula pekerjaan. Untuk menjemur, mengolah, dan menggiling gula sebanyak itu, Oda membutuhkan lebih banyak tangan. Ia kemudian mengajak tiga orang ibu untuk bergabung. Dengan tambahan tersebut, jumlah pekerja harian di Gedung Sentra menjadi tujuh orang.
Bagi sebagian ibu, pekerjaan itu mungkin terlihat sederhana: datang, bekerja, lalu pulang membawa upah. Tetapi bagi mereka, tambahan penghasilan tersebut punya arti yang lebih jauh. Salah seorang ibu tinggal tidak jauh dari Gedung Sentra. Setiap pagi, ia mengantar anak semata wayangnya ke sekolah dasar. Setelah memastikan anaknya masuk kelas, ia berjalan ke Gedung Sentra dan bekerja hingga waktunya pulang.
Sejak saat itu, Gedung Sentra perlahan kehilangan wajah lamanya. Tempat yang dulu gelap dan jarang digunakan, yang oleh Oda bahkan digambarkan seperti tempat berkumpulnya jin, kini mulai menyala sejak pagi. Ada suara orang bekerja, gula yang dijemur, mesin yang berputar, dan percakapan yang mengisi ruang-ruang yang sebelumnya sunyi. Gedung itu tidak lagi sekadar bangunan tempat mengumpulkan hasil aren. Ia mulai menjadi ruang tempat orang-orang bekerja, bertemu, dan mendapatkan penghasilan.
Tetapi cerita tentang Gedung Sentra belum selesai.
Di balik gedung yang kini semakin ramai, ada cerita lain yang perlahan muncul: tentang perempuan-perempuan yang datang bekerja setelah menyelesaikan pekerjaan rumah, tentang waktu kerja yang semakin panjang ketika pesanan bertambah, dan tentang tubuh-tubuh yang tetap harus bekerja ketika hari seharusnya sudah berakhir. Oda mulai melihat bahwa bertambahnya produksi tidak selalu berarti bertambahnya kesejahteraan bagi semua orang.
Dari sana, cara pandang Oda perlahan berubah. Ia mulai memperhatikan siapa yang paling banyak bekerja, siapa yang pulang paling akhir, dan siapa yang harus membagi waktu antara pekerjaan di Gedung Sentra dengan pekerjaan yang menunggu di rumah.
Cerita tentang Gedung Sentra akan berlanjut di Part II