Ketika Listrik Mengurangi Beban Perempuan Rimba di Rombong Ngilo

Oleh: Hesti Julianawati (KKI WARSI) dan Yael Stefany (KEMITRAAN)

Tidak semua perubahan dapat diukur dari jumlah tiang listrik yang berdiri atau panjang kabel yang berhasil dipasang. Ada perubahan yang jauh lebih penting. Perubahan yang hanya benar-benar dipahami oleh mereka yang selama bertahun-tahun menjalani hidup dalam gelap.

Bagi perempuan-perempuan Rombong Ngilo, cahaya pertama yang menyala di rumah bukan sekadar tanda bahwa listrik akhirnya datang. Cahaya itu menandai berkurangnya satu pekerjaan yang selama ini mereka lakukan hampir setiap hari: menimba air.

Selama bertahun-tahun, mengambil air menjadi pekerjaan yang hampir selalu dilakukan perempuan. Setelah menyelesaikan pekerjaan di kebun sejak pagi hingga sore, mereka masih harus berjalan menuju sumur yang berada sekitar lima puluh meter di belakang permukiman. Air ditarik menggunakan tali, lalu dipikul pulang ke rumah untuk memenuhi kebutuhan memasak, mandi, mencuci, hingga kebutuhan sehari-hari keluarga.

Pekerjaan itu dilakukan berulang-ulang. Setiap hari, setiap malam. Ketika hari mulai gelap, penerangan hanya berasal dari senter kecil atau lampu minyak tanah yang cahayanya tidak mampu menjangkau seluruh jalan menuju sumur.

Di sepanjang lintasan, pelepah-pelepah sawit yang telah dipangkas menyisakan duri-duri tajam. Dalam kondisi minim cahaya, perjalanan mengambil air bukan hanya melelahkan, tetapi juga menyimpan risiko terluka karena sulit melihat jalan dengan jelas. Karena aktivitas dilakukan pada malam hari, perempuan juga menghadapi rasa tidak aman ketika harus keluar rumah sendirian dalam kondisi gelap.

Sebagian keluarga sebenarnya berusaha menyiasati keadaan dengan menampung air sejak sore. Namun kenyataan di lapangan tidak selalu memungkinkan. Sebagian besar perempuan juga bekerja di kebun keluarga. Mereka mencari berondol sawit, merawat tanaman pangan, atau melakukan pekerjaan produktif lain yang baru selesai menjelang petang. Ketika kembali ke rumah, pekerjaan domestik telah menunggu.

Mereka memasak. Mengurus anak. Membersihkan rumah. Barulah setelah semua selesai, mereka mengambil air. Dalam banyak keluarga, pekerjaan itu tidak dibagi secara setara. Mengambil air masih dipandang sebagai tanggung jawab perempuan. Artinya, ketika laki-laki telah selesai bekerja di kebun, perempuan masih melanjutkan pekerjaan lainnya yang berlangsung hingga malam hari.

Beban seperti inilah yang sering kali tidak terlihat ketika pembangunan hanya dipandang dari sisi infrastruktur. Kondisi tersebut juga dirasakan oleh anak-anak perempuan. Sejak usia muda mereka mulai membantu ibu mengambil air, mengangkat ember, hingga menyelesaikan berbagai pekerjaan rumah lainnya. Akibatnya, waktu untuk belajar menjadi semakin terbatas.

Ketika seluruh pekerjaan selesai, malam telah larut. Penerangan dari lampu minyak tidak cukup terang untuk membaca dalam waktu lama. Mata cepat lelah. Asap lampu memenuhi ruangan. Keesokan paginya mereka harus kembali bangun untuk beraktivitas. Dalam situasi seperti itu, pendidikan tidak hanya dipengaruhi oleh akses sekolah. Ia juga dipengaruhi oleh bagaimana pekerjaan domestik dibagi di dalam keluarga.

Di sinilah persoalan listrik bertemu dengan persoalan gender. Ketiadaan listrik ternyata tidak berdampak sama bagi semua orang. Perempuan menanggung konsekuensi yang lebih besar karena pekerjaan reproduktif—mengambil air, memasak, mengurus rumah, hingga mendampingi anak—lebih banyak dibebankan kepada mereka. Karena itu, ketika listrik akhirnya hadir, manfaat yang dirasakan perempuan juga jauh lebih besar.

Rencana pertama setelah jaringan listrik berfungsi bukanlah membeli televisi. Bukan pula kulkas. Yang paling ingin diwujudkan adalah memasang pompa air. Pompa itu akan mengubah pekerjaan yang selama bertahun-tahun menguras tenaga menjadi jauh lebih ringan. Air tidak lagi harus ditimba menggunakan tali. Perempuan tidak perlu lagi memikul ember dari sumur menuju rumah berkali-kali setiap hari.

Waktu dan tenaga yang selama ini habis untuk pekerjaan tersebut dapat digunakan untuk aktivitas lain, termasuk beristirahat. Perubahan ini mungkin tampak sederhana bagi banyak orang. Namun bagi perempuan Rombong Ngilo, ia berarti berkurangnya satu bentuk pekerjaan fisik yang telah diwariskan turun-temurun. Listrik juga membawa perubahan pada pekerjaan produktif keluarga.

Sebagian besar keluarga kini mengembangkan kebun pangan seperti kangkung, cabai, jagung, dan ubi untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga sekaligus menambah penghasilan. Merawat tanaman membutuhkan penyiraman dan penyemprotan secara rutin. Peralatan semprot yang mereka gunakan menggunakan baterai isi ulang. Sebelum ada listrik, baterai harus dibawa keluar kampung untuk diisi daya.

Selain membutuhkan biaya tambahan, proses tersebut juga memakan waktu. Kini peralatan itu dapat diisi langsung di rumah. Produktivitas kerja menjadi lebih efisien, sementara biaya dan waktu yang sebelumnya digunakan untuk mengisi daya dapat ditekan. Perubahan ini menunjukkan bahwa akses listrik tidak hanya berkaitan dengan kenyamanan hidup, tetapi juga memengaruhi ketahanan ekonomi keluarga.

Meski demikian, masyarakat dan pendamping menyadari bahwa perubahan belum berhenti pada hadirnya listrik. Infrastruktur dapat mengurangi beban kerja. Namun ia tidak otomatis mengubah cara masyarakat membagi pekerjaan antara laki-laki dan perempuan. Jika seluruh pekerjaan domestik tetap dianggap sebagai tanggung jawab perempuan, maka beban berlapis itu akan terus berlangsung, meskipun rumah telah terang benderang.

Kesadaran inilah yang kemudian menjadi salah satu alasan mengapa pendampingan tidak berhenti setelah listrik berhasil masuk. Melalui Sekolah Perempuan yang sedang dipersiapkan di komunitas, perempuan-perempuan Rombong Ngilo akan memiliki ruang untuk mendiskusikan pengalaman hidup mereka sendiri—mulai dari pembagian kerja domestik, hak atas pelayanan dasar, kesehatan, pendidikan anak, hingga posisi perempuan dalam pengambilan keputusan di keluarga maupun komunitas.

Tujuannya bukan sekadar memberikan pengetahuan. Lebih dari itu, Sekolah Perempuan diharapkan menjadi ruang refleksi agar perempuan menyadari bahwa beban yang mereka pikul selama ini bukan sesuatu yang harus diterima sebagai kodrat. Sebagian di antaranya merupakan hasil dari pembagian peran sosial yang dapat dinegosiasikan dan diubah secara bersama-sama.

Dengan demikian, listrik menjadi titik awal, bukan garis akhir. Ia membuka peluang untuk mengurangi pekerjaan fisik perempuan, tetapi perubahan menuju relasi yang lebih setara membutuhkan proses yang lebih panjang. Beberapa bulan sebelumnya, Ngilo Temenggung pernah berkata dengan nada putus asa,

“Percuma kita selalu ikut kegiatan dan menyuarakan listrik di dalam, toh tidak ada perubahan yang terjadi.”

Kini, ketika malam turun di Rombong Ngilo, kalimat itu tidak lagi terdengar. Rumah-rumah mulai diterangi cahaya. Anak-anak memiliki ruang yang lebih nyaman untuk belajar. Peralatan pertanian dapat diisi dayanya di rumah. Dan perempuan tidak lagi harus selalu menutup hari dengan berjalan dalam gelap menuju sumur. Namun kisah Rombong Ngilo sesungguhnya tidak sedang bercerita tentang lampu yang akhirnya menyala.

Ia bercerita tentang bagaimana sebuah hak dasar yang selama puluhan tahun tidak terpenuhi akhirnya hadir, dan bagaimana pemenuhan hak tersebut mulai membuka ruang bagi kehidupan yang lebih aman, lebih sehat, dan lebih adil bagi perempuan rimba.

Penulis :

Foto: Hesti Juliana/KKI Warsi