Oleh: Bambang Sagurung, YCMM
Di sudut dapur berukuran dua kali tiga meter, dengan lantai papan dan atap daun sagu, bunyi tumbukan batu terdengar berulang. Anni (43) duduk bersila, menumbuk buah jengkol di atas plastik bening yang dialasi papan kayu. Tangan kanannya terangkat — lalu jatuh lagi dengan ritme yang sabar.
“Memang harus sabar untuk menumbuknya,” katanya sambil tersenyum tipis.
Bagi Anni dan banyak ibu rumah tangga di Malancan, jengkol bukan sekadar bahan pangan. Dulu, ia adalah sumber penghasilan musiman yang dinanti. Lima hingga sepuluh tahun lalu, saat harga masih Rp5.000–Rp7.000 per kilogram, musim panen bisa membawa tambahan pendapatan jutaan rupiah bagi keluarga. Ada yang memperoleh Rp15–30 juta dalam satu musim. Buah jengkol dikumpulkan, dibawa ke pelabuhan Pokai, lalu dijual ke penampung dari Padang yang datang mengikuti jadwal kapal feri mingguan.
Kini harga turun menjadi Rp2.000–Rp3.000 per kilogram. Jengkol tidak lagi bernilai seperti dulu. Pohon yang dulu dipanen habis, kini sering dibiarkan berbuah tua di batang.
“Orang seperti membiarkannya saja karena tidak bernilai,” kata Anni.
Penurunan harga itu bukan hanya soal ekonomi. Ia memengaruhi cara orang memandang hasil kebun mereka sendiri — dari sesuatu yang dibanggakan menjadi sesuatu yang nyaris diabaikan.
Situasi itulah yang ditemui YCMM melalui Program Estungkara ketika mendampingi masyarakat di Malancan tahun lalu. Keluhan tentang jengkol sering muncul — terutama dari keluarga yang memiliki banyak pohon tetapi tidak lagi memperoleh manfaat ekonomi.
Di tengah kegelisahan itu, fasilitator mencoba mencari alternatif. Dari diskusi bersama ibu-ibu hingga pencarian ide sederhana, muncul gagasan yang tidak terlalu jauh dari pengetahuan lokal: mengolah jengkol menjadi kerupuk.
Sebagian ibu sebenarnya pernah melihat atau mencoba membuatnya — belajar dari pengalaman pendatang. Yang belum ada adalah keberanian untuk menjadikannya usaha.
“Selain kami tidak yakin ada yang mau beli, juga belum ada tempat penampungan pasti,” kata Anni. Rasa ragu itu wajar. Produksi berarti tenaga, waktu, dan risiko. Tanpa pasar yang jelas, usaha bisa sia-sia.
Pendampingan kemudian difokuskan pada langkah-langkah kecil: mengorganisir pengolahan, melengkapi kebutuhan sederhana seperti plastik kaca, serta membantu memasarkan hasil produksi ke luar Malancan.
Tidak semuanya sempurna — ada yang pecah, bentuknya tidak rapi. Namun percobaan itu tetap berjalan. Dan ternyata, ada yang membeli.
Kerupuk jengkol dijual di pusat kecamatan Sikabaluan. Pembelian memang belum besar — setengah kilogram hingga dua kilogram — tetapi cukup untuk mengubah suasana hati.
“Meski tidak banyak, kami jadi percaya diri karena ada yang beli,” kata Anni.
Harga jual mencapai Rp70.000 per kilogram. Dari produksi awal, beberapa ibu memperoleh tambahan pendapatan Rp150.000–Rp500.000. Untuk sebagian keluarga, ini berarti uang belanja dapur atau biaya sekolah anak.
Tahun berikutnya, ibu-ibu mulai melanjutkan produksi dengan inisiatif sendiri. Diskusi dengan pendamping lebih banyak berkisar pada penentuan harga dan pemanfaatan hasil penjualan — tanda bahwa proses telah bergerak dari fasilitasi menuju kemandirian.
Produksi kerupuk tidak selalu dilakukan sendiri. Ada yang bekerja berkelompok dua atau tiga orang dalam satu rumah. Ada yang berbagi peran. Ada yang saling meminjam peralatan.
“Kalau ada teman tidak punya plastik kaca, kami kumpul atau bergantian,” kata Lasma (41).
Kerja bersama itu membangun interaksi sosial baru. Solidaritas muncul bukan hanya dalam produksi, tetapi juga dalam pemasaran — ketika satu ibu kehabisan stok, yang lain membantu memenuhi pesanan.
Di sisi lain, pengalaman membuat kerupuk menyebar ke desa lain. Sebagian ibu membeli jengkol dari Malancan untuk mencoba mengolahnya sendiri di rumah.
Perubahan perlahan meluas — dari ekonomi kecil menuju pertukaran pengetahuan. Bagi pendamping, usaha kerupuk jengkol bukan hanya soal diversifikasi produk. Ada dimensi identitas yang ingin diubah. Malancan selama ini sering dikenal melalui label negatif dari luar. Pendampingan mencoba membuka kemungkinan lain — agar desa dikenali melalui sesuatu yang membanggakan. Harapannya sederhana: ketika orang mendengar Malancan, yang teringat adalah kerupuk jengkolnya.
Produksi harian masih kecil — sekitar 20–50 lembar per sesi, dengan pendapatan rata-rata Rp35.000–Rp100.000 per hari saat musim jengkol. Tetapi aktivitas ini mulai menjadi rutinitas baru. Jika terus dilakukan, keterampilan meningkat, kualitas stabil, dan peluang pasar terbuka.
Bahkan dalam jangka panjang, peningkatan nilai olahan berpotensi memengaruhi harga buah jengkol itu sendiri. Perubahan di Malancan tidak terjadi dalam satu lompatan besar. Ia tumbuh dari percobaan kecil — dari dapur sederhana, alat seadanya, dan keraguan yang perlahan berubah menjadi keyakinan. Cerita ini belum selesai. Produksi masih berlangsung, pasar masih dicari, dan musim jengkol berikutnya akan membawa tantangan baru.
Namun di dapur kecil Anni, bunyi tumbukan batu itu kini membawa makna berbeda — bukan sekadar mengolah jengkol, tetapi mengolah kemungkinan.