Mengubah Dapur Menjadi Sumber Daya

Oleh: Happy Octa Famelia, PPSW Jakarta

Di Desa Cengklong, Kecamatan Kosambi, hari-hari Ibu Erpih dulu berjalan nyaris tanpa perubahan. Pagi dimulai dengan menyapu dan memasak, siang diisi mencuci dan merapikan rumah, sore kembali ke dapur menyiapkan makan mal am. Ia meyakini satu hal yang selama ini dianggap wajar: tugas perempuan adalah mengurus rumah dan keluarga.

Ekonomi keluarga berjalan pas-pasan. Dua anaknya telah menikah dan tinggal terpisah, sementara satu anak masih sekolah dan hidup bersamanya. Ketika suaminya tidak lagi bekerja, beban kebutuhan rumah tangga perlahan berpindah ke pundaknya. Namun saat itu, Ibu Erpih belum melihat dirinya sebagai pencari nafkah. Ia hanya seorang ibu rumah tangga dengan keterampilan membuat kue tradisional.

Awalnya ia mencoba menjual kue-kue buatannya kepada tetangga. Pesanan datang perlahan. Empat tahun ia jalani usaha itu dengan ritme yang sederhana: produksi kecil, pasar terbatas, keuntungan tipis. Ia kemudian mencoba memperluas jenis usahanya dengan membuat telur asin. Keputusan itu sempat berujung kerugian. Telur yang diproduksi tidak bertahan lama, sebagian membusuk sebelum terjual. Modal yang terkumpul sedikit demi sedikit nyaris habis.

Kegagalan itu tidak membuatnya berhenti. Perubahan yang lebih besar terjadi ketika salah satu anggota Koperasi Lampion Merah Abadi mengajaknya bergabung, koperasi simpan pinjam yang menjadi wadah ekonomi perempuan. Awalnya ia ragu. Ia belum pernah berurusan dengan koperasi dan tidak memahami manfaatnya. Namun penjelasan tentang simpanan pokok, tabungan sukarela, dan akses pinjaman membuka perspektif baru: ada ruang bagi perempuan untuk mengembangkan usaha bersama.

Selain simpan pinjam, justru ia mendapatkan banyak pelatihan dan peningkatan kapasitas. Seperti pelatihan pemasaran dan pengemasan produk, mulai mencari tahu teknik pengolahan yang lebih baik—bagaimana memilih telur berkualitas, mengatur kadar garam, hingga memastikan daya tahan produk. Proses belajar itu ia lakukan secara otodidak, bertanya pada sesama pelaku usaha, dan mencoba berulang kali sampai menemukan cara yang tepat. Perlahan, kualitas telurnya membaik

Ia mendaftar sebagai anggota dengan membayar simpanan pokok Rp50.000 secara angsuran. Bagi sebagian orang angka itu kecil, tetapi baginya itu adalah keputusan berani—menyisihkan uang di tengah kebutuhan yang mendesak. Melalui koperasi, ia mendapat akses modal untuk memperbesar produksi. Pinjaman itu tidak hanya menambah bahan baku, tetapi juga menambah kepercayaan dirinya.

“Dengan adanya koperasi saya sangat terbantu untuk modal usaha dan kebutuhan sehari-hari di rumah,” ujarnya.

Sejak itu, usahanya mulai menunjukkan perkembangan nyata. Pesanan telur asin menembus 100 butir per periode produksi. Anggota koperasi menjadi pelanggan tetap sekaligus jaringan pemasaran awalnya. Ia juga mulai memanfaatkan media sosial untuk menjangkau pembeli lebih luas. Dari dapur rumah, produknya menjangkau konsumen di luar lingkar pertemanannya. Pendapatan yang dihasilkan membantu biaya sekolah anaknya dan menopang kebutuhan rumah tangga ketika suami tidak lagi bekerja.

Pandangan Ibu Erpih tentang dirinya sendiri ikut bergeser. Ia tidak lagi melihat dirinya sekadar sebagai pelengkap ekonomi keluarga. Ia mulai terlibat dalam pengambilan keputusan keuangan rumah tangga. Ia berani keluar rumah untuk menghadiri pertemuan koperasi. Ia memiliki ruang berbagi pengalaman dengan perempuan lain yang menghadapi tantangan serupa.

“Saya tidak pernah berpikir bisa menjadi penjual telur asin dan kue yang berkembang,” katanya. “Saya ingin membantu membiayai kebutuhan anak. Saya juga tidak ingin hanya diam di rumah.”

Koperasi menjadi lebih dari sekadar tempat meminjam uang. Ia menjadi ruang belajar kolektif, tempat perempuan saling menguatkan dan berbagi strategi usaha. Dari sana, Ibu Erpih memahami bahwa kemandirian ekonomi bukan berarti meninggalkan peran keluarga, melainkan memperluasnya—dari mengurus dapur menjadi mengelola usaha, dari menerima keputusan menjadi ikut menentukan arah hidup.

Hari ini, Ibu Erpih berdiri sebagai perempuan usaha mikro yang tidak hanya menopang ekonomi rumah tangga, tetapi juga membuktikan bahwa akses pada lembaga keuangan yang inklusif dapat membuka jalan bagi transformasi yang lebih dalam: transformasi cara perempuan memandang dirinya sendiri dan perannya dalam masyarakat.

Penulis :