Oleh: Ani Safitri, KKI Warsi
“Dulu saya tidak mau menanam kopi. Sekarang saya menanam kopi untuk anak cucu saya. Saya ingin dari kopi ini nanti anak saya bisa sekolah.”
Minar mengucapkan kalimat itu sambil menunjuk deretan bibit kopi yang tumbuh di sela-sela kebun karetnya. Bibit-bibit itu belum tinggi. Buahnya pun masih harus menunggu beberapa tahun lagi. Namun, bagi Minar, kopi bukan lagi sekadar tanaman yang sedang ia rawat. Di sana ia menaruh harapan tentang masa depan keluarganya.
Beberapa tahun lalu, sulit membayangkan perempuan-perempuan Talang Mamak berbicara tentang kopi sebagai sumber penghidupan. Selama ini, karet menjadi tumpuan utama ekonomi keluarga. Hampir setiap hari mereka membantu menyadap karet, mengurus rumah tangga, mengasuh anak, menyiapkan makanan, hingga mengelola pekarangan. Di tengah beban kerja itu, menanam kopi dianggap tidak mendesak. Tanaman itu dipandang sebagai pelengkap yang belum tentu memberi manfaat.
Cara pandang tersebut tidak berubah begitu saja ketika bibit kopi mulai dibagikan melalui program penghijauan. Justru sebaliknya, sebagian besar masyarakat memilih tidak mengambilnya. Pengalaman berhadapan dengan berbagai program dari luar membuat mereka berhati-hati. Mereka belum yakin bahwa kopi layak ditanam, apalagi dijadikan bagian dari strategi penghidupan keluarga.
Perubahan mulai tumbuh ketika masyarakat diberi kesempatan untuk belajar, bukan sekadar menerima bantuan.
Melalui pendampingan KKI WARSI, perempuan-perempuan yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani mulai mengikuti sekolah lapang budidaya kopi. Mereka belajar mengenali hama, menyemai biji dari buah ceri, memindahkan bibit ke polybag, hingga menanam kopi di lahan agroforestri. Pengetahuan tersebut menjadi bekal awal, tetapi belum cukup mengubah keyakinan.
Perubahan baru terasa ketika mereka bertemu dengan petani yang telah lebih dulu membuktikan bahwa kopi dapat menjadi sumber penghidupan.
Pak Juna, seorang petani kopi dari Semambu, tidak berbicara dengan istilah-istilah teknis. Ia bercerita sebagai sesama petani. Ia menunjukkan bagaimana kopi dapat tumbuh berdampingan dengan karet, bagaimana merawat tanaman agar tetap produktif, dan bagaimana kesabaran selama beberapa tahun pertama akan terbayar ketika tanaman mulai menghasilkan. Pengalaman nyata membuat pengetahuan terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Pembelajaran itu berlanjut melalui kunjungan ke kebun Mbah Man di kawasan Wildlife Conservation Area (WCA). Di sana mereka mengikuti seluruh proses pengelolaan kopi, mulai dari pembibitan hingga pascapanen. Mereka melihat bagaimana kopi dipanen, dijemur, diolah menjadi berbagai jenis produk, dan memiliki nilai jual yang jauh lebih tinggi ketika dikelola dengan baik.
Yang paling membekas bukan sekadar teknik budidaya, melainkan kesadaran bahwa kopi dapat menjadi sumber penghidupan tanpa harus membuka hutan baru. Mereka pulang membawa buah ceri merah untuk disemai sendiri, sekaligus membawa keyakinan bahwa apa yang mereka lihat dapat dilakukan di kampung mereka.

Perubahan itu mulai tampak beberapa bulan kemudian.
Bibit-bibit hasil semaian tumbuh di pekarangan rumah dan kemudian dipindahkan ke sela-sela kebun karet. Setiap anggota Kelompok Wanita Tani menanam sekitar 40 hingga 50 bibit. Bahkan, sebelum pembagian bibit dilakukan, beberapa perempuan telah lebih dulu mencari bibit kopi liar untuk ditanam. Mereka tidak lagi menunggu bantuan datang, tetapi mulai mengambil inisiatif.
Yang berubah bukan hanya jumlah tanaman.
Mereka mulai memperhatikan jarak tanam, memilih pohon penaung, serta merawat tanaman mengikuti pengetahuan yang mereka peroleh selama proses belajar. Kopi tidak lagi diperlakukan sebagai tanaman tambahan, melainkan bagian dari perencanaan jangka panjang keluarga.
Bagi Minar, keputusan menanam kopi berangkat dari harapan yang sangat sederhana: agar anak-anaknya memiliki kesempatan bersekolah lebih tinggi daripada dirinya. Harapan itu juga dirasakan perempuan-perempuan lain di kelompok. Mereka melihat kopi sebagai peluang untuk menambah sumber pendapatan keluarga di masa depan, sekaligus mengurangi ketergantungan pada satu komoditas.
Di balik perubahan tersebut, ada proses lain yang tidak selalu terlihat.
Sebagai pendamping lapangan yang tinggal bersama masyarakat, Ani melihat bahwa perempuan memikul beban kerja yang panjang. Mereka mengurus rumah, membantu pekerjaan di kebun, sekaligus terlibat dalam berbagai kegiatan kelompok. Namun, ruang untuk belajar, berdiskusi, dan menentukan pilihan ekonomi sering kali lebih sempit dibanding laki-laki.
Karena itu, kelas-kelas perempuan dan pertemuan Kelompok Wanita Tani menjadi lebih dari sekadar tempat belajar budidaya kopi. Ruang-ruang tersebut perlahan menjadi tempat perempuan saling berbagi pengalaman, mendiskusikan persoalan yang mereka hadapi, serta menyusun solusi bersama.
Salah satu contoh nyata lahir melalui praktik gotong royong yang mereka sebut palorien. Saat membersihkan lahan dan menanam kopi, mereka bekerja bergiliran dari kebun satu anggota ke anggota lainnya. Cara ini lahir dari diskusi kelompok sebagai jawaban atas keterbatasan tenaga dan waktu yang dimiliki setiap keluarga. Dengan bekerja bersama, pekerjaan yang semula terasa berat menjadi lebih ringan, sementara hubungan antarsesama perempuan semakin kuat.
Bagi Ani, perubahan paling penting bukan sekadar bertambahnya jumlah bibit kopi yang ditanam. Yang jauh lebih berarti adalah melihat perempuan mulai memiliki ruang untuk mengambil keputusan tentang sumber daya yang akan mereka kelola di masa depan. Kopi bukan lagi tanaman yang dipilih karena ada program, tetapi karena mereka sendiri melihat manfaatnya bagi keluarga dan komunitas.
Perjalanan ini tentu belum selesai. Tanaman kopi baru akan mulai berproduksi sekitar tiga hingga tiga setengah tahun setelah ditanam. Masa menunggu itu menjadi tantangan tersendiri. Karena itu, pendampingan berlanjut melalui perawatan tanaman, penguatan kapasitas budidaya, hingga pengolahan pascapanen agar kopi yang dihasilkan memiliki kualitas dan nilai jual yang lebih baik.
Perubahan di Talang Mamak menunjukkan bahwa membangun penghidupan yang berkelanjutan tidak dimulai dari pembagian bibit, melainkan dari tumbuhnya kepercayaan dan pengetahuan yang dimiliki masyarakat sendiri. Ketika perempuan memperoleh ruang belajar yang aman, kesempatan untuk bertukar pengalaman, dan dukungan untuk mengambil keputusan, mereka tidak hanya menanam kopi. Mereka sedang menanam harapan, memperkuat ketahanan ekonomi keluarga, dan menyiapkan masa depan yang mereka pilih sendiri.