Oleh: Ahsan Setiawan, Sulawesi Cipta Forum (SCF)
Meski lembaga sosial-ekonomi di Desa Kaluppini sudah lama ada, kenyataannya masih berjalan sendiri-sendiri tanpa koordinasi yang benar-benar terpadu. Belum ada ruang pertemuan yang bisa mempertemukan semua pihak untuk saling berbagi peran atau menyusun visi bersama.
Gambaran ini muncul dari obrolan rutin Muslimin, fasilitator lapangan program Estungkara, dengan berbagai elemen masyarakat—mulai dari Kepala Desa, kader perempuan, hingga pengurus Koperasi Merah Putih. Lewat pendekatan yang personal dan dialogis, tim Estungkara SCF mencoba mengurai persoalan di tingkat tapak. Dari situ, mulai muncul inisiatif untuk mendorong lembaga-lembaga desa menjadi wadah kolaboratif yang lebih fokus pada pemberdayaan dan penguatan peran perempuan adat, salah satunya melalui Serial Pelatihan Penguatan Lembaga Sosial Ekonomi yang Inklusif pada 22 Januari 2026.
Pagi itu, pukul 10.00, sebanyak 12 laki-laki dan 10 perempuan adat Kaluppini berkumpul. Tim Estungkara – Sulawesi Cipta Forum hadir bukan sekadar membawa program, tapi mencoba membuka ruang yang selama ini terasa tersumbat: ruang untuk belajar bersama, berdialog secara setara, dan yang paling penting, membangun kembali rasa saling percaya antarwarga.
Muslimin, sebagai fasilitator lapangan, mencoba mengurai hambatan yang sering muncul dalam pembangunan desa. Ia mengingatkan bahwa perubahan sosial di komunitas adat seperti Kaluppini tidak mungkin lahir dari gerak yang terfragmentasi. Ketahanan desa sangat bergantung pada sejauh mana lembaga-lembaga lokal bisa saling terhubung dan menjalin peran.
Saat menyoroti posisi perempuan dalam struktur sosial desa, Muslimin menegaskan: “Penguatan ekonomi desa tidak cukup hanya dengan adanya usaha yang berjalan. Yang lebih penting adalah bagaimana lembaga-lembaga di desa ini bisa saling terhubung dan bekerja kolektif. Dalam Program Estungkara, penguatan kapasitas perempuan adat akan menjadi poros utama pendampingan kami selama tiga tahun ke depan.”
Kepala Desa Kaluppini, Muhammad Salata, juga menyampaikan harapannya agar desa bisa mandiri secara sosial dan ekonomi, dengan perempuan adat sebagai salah satu penggeraknya. “Harapan kami, Desa Kaluppini bisa mandiri secara sosial dan ekonomi. Lembaga-lembaga UMKM di desa harus saling menguatkan, bahkan bisa bekerja sama lintas desa. Kemandirian masyarakat adat, terutama melalui pemberdayaan perempuan, adalah tujuan bersama yang ingin kami capai,” ujarnya. Pernyataan ini memberi sinyal bahwa upaya ini tidak berjalan sendiri, tapi mendapat dukungan dari pemerintah desa.
Asmayanti, seorang ibu muda dari komunitas adat Kaluppini, berbagi pengalamannya dengan antusias. Baginya, pengetahuan praktis seperti ini menjadi jembatan untuk mengatasi kegagalan yang sebelumnya ia alami sendiri di rumah. “Sebagai ibu muda, saya senang dengan pelatihan yang praktis begini. Contohnya budidaya kangkung pakai botol bekas, itu mudah diterapkan di rumah. Saya sudah pernah coba menanam, tapi sering gagal karena tidak paham cara mengatur nutrisinya. Dengan adanya pendampingan nanti, saya yakin bisa lebih berhasil karena ilmunya sudah ada, tinggal konsistensi menerapkannya,” tuturnya.
Hal serupa juga disampaikan Bu Madia, pengurus PKK Desa Kaluppini. Ia melihat pelatihan ini bukan sekadar transfer ilmu, tapi juga bisa jadi pemantik kolaborasi yang lebih besar. Ia menyadari bahwa potensi perempuan Kaluppini sebenarnya sudah ada, hanya saja masih butuh simpul pengikat agar tidak berjalan sendiri-sendiri. “Kami berterima kasih kepada narasumber dan SCF. Sebenarnya perempuan Kaluppini sudah banyak berbuat, tapi kami masih butuh dukungan—terutama soal pemasaran agar tetap konsisten. Saya setuju jika dibentuk kelompok hidroponik khusus perempuan. Dengan kerja kelompok, kita bisa saling bantu menyiapkan alat dan menjual hasil panen. Ini bukan hanya soal ekonomi keluarga, tapi juga kemandirian pangan di desa. Apalagi sekarang ada program Dapur MBG yang sangat butuh pasokan sayuran sehat dan segar,” ungkapnya optimis.
Dalam pertemuan itu, Ahsan, manajer program Estungkara, mengajak peserta melihat perubahan sebagai proses bersama yang perlu direncanakan sejak awal. “Awal tahun adalah momentum untuk membangun visi dan pemikiran yang sama. Ketahanan dan kemandirian masyarakat adat hanya bisa tercapai jika semua pihak—perempuan muda, orang tua, pemuda, pemangku adat, dan lembaga desa—berkolaborasi. Penting juga memikirkan mekanisme kerja dan pemilihan komoditas yang memberi ruang partisipasi bermakna bagi perempuan,” jelasnya.
Hasdiana Sawati (Bu Nanna), pemilik Batili Hidroponik, mengajak peserta melihat peluang usaha dari kebutuhan pasar, khususnya dari program MBG. “Usaha itu harus dilihat dari peluang dan kepastian pasar. Perempuan adat punya peran penting, asal didukung dengan pengetahuan dan pembagian peran yang adil di keluarga. Ada pasar baru yang cukup besar dan dekat dari kita. Berbasis pertanian dan perkebunan, peluang ini sebenarnya sangat bisa kita tangkap,” katanya.
Bu Nanna juga menceritakan bagaimana pembagian peran di keluarganya dalam mengelola usaha hidroponik. Suaminya fokus pada pekerjaan yang membutuhkan tenaga fisik dan keterampilan teknis seperti membangun rangka dan instalasi. Sementara Bu Nanna menjadi “otak produksi”: riset benih, penyemaian, perawatan, hingga memastikan kualitas panen.
Pembagian peran ini tidak terjadi begitu saja, tapi melalui proses dialog. Mereka saling memahami kekuatan dan keterbatasan masing-masing. Dengan cara ini, usaha tidak menjadi beban tambahan bagi perempuan, melainkan kerja kolektif yang saling menguatkan. Ketika kerja dibicarakan bersama, perempuan punya ruang untuk bertumbuh tanpa harus menanggung beban ganda.
Setelah sesi refleksi, kegiatan dilanjutkan dengan praktik penyemaian selada yang dipandu oleh Bu Nanna. Saat benih, spons, dan talang sederhana dibagikan, suasana berubah menjadi lebih hidup. Alat-alat sederhana itu menjadi media belajar bersama dan saling bertukar pemahaman.
Praktik ini membuka ruang penguatan kapasitas, di mana peserta bisa langsung mencoba cara budidaya yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Dari sini terlihat bahwa usaha keluarga sebenarnya bisa dimulai dari langkah-langkah kecil yang realistis untuk diterapkan di rumah.
Setelah praktik penyemaian, diskusi kembali dibuka. Bu Jumiati berbagi cerita tentang usahanya bertahan dengan keripik pisang. Bagi perempuan adat seperti dirinya, usaha bukan sekadar soal untung-rugi, tapi cara agar dapur tetap mengepul. Selama ini, ia hanya mengandalkan jaringan personal—dari mulut ke mulut.
“Saya sudah mulai, tapi belum bisa rutin karena pasarnya terbatas. Kendalanya ada pada kemasan dan pemasaran,” ujarnya jujur. Cara ini memang membuat usahanya tetap hidup, tapi sulit berkembang. Yang ia butuhkan bukan sekadar modal uang, melainkan akses dan kepastian pasar.
Menanggapi hal ini, Muhammad Rahmat menekankan pentingnya peran kelembagaan desa. “Petani tidak boleh dibiarkan berjalan sendiri. Di sinilah koperasi desa dan lembaga sosial-ekonomi lainnya harus hadir, menjadi penjamin pasar sekaligus penjaga kualitas produksi,” tegasnya.
Komitmen ini diperkuat oleh Pratiwi, Penyuluh Pertanian Lapangan Desa Kaluppini. Ia menilai pendampingan harus dilakukan secara konsisten agar tidak berhenti di tengah jalan. “Pendampingan harus terus dilakukan supaya usaha ini benar-benar tumbuh. Saya siap terlibat lebih jauh dalam pemberdayaan kelompok perempuan di sini,” ujarnya.
Menutup rangkaian diskusi, Bu Nanna menawarkan diri untuk menjadi mentor. Ia paham bahwa pengetahuan teknis mudah hilang jika hanya diberikan sekali. “Kalau hanya pelatihan satu hari, pengetahuan itu cepat hilang. Saya siap mendampingi pelan-pelan supaya ibu-ibu benar-benar paham dan percaya diri,” katanya.
Pertemuan di Kaluppini ini menjadi momentum penting untuk mempertemukan berbagai peran yang selama ini berjalan terpisah. Dari pembagian peran di rumah tangga hingga jaminan pasar oleh lembaga desa, semuanya mengarah pada upaya membangun fondasi ekonomi yang lebih kokoh.
Keberhasilan tidak lagi bertumpu pada individu, tapi pada seberapa kuat ruang dialog dan kerja bersama bisa terus dijaga. Penguatan kapasitas perempuan adat yang menjadi fokus Program Estungkara mulai menemukan bentuk nyatanya—melalui kolaborasi antara pengetahuan warga, dukungan teknis penyuluh, dan peran koperasi.
Di Kaluppini, perubahan mulai tumbuh bukan dari instruksi luar, tapi dari kesadaran bersama untuk berbagi peran dan tanggung jawab demi masa depan yang lebih berkelanjutan.