Menganyam untuk Masa Depan Keluarga

Oleh: Bambang Sagurung, YCMM

Cuaca siang itu cukup terik di Desa Malancan, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Di teras rumahnya, Silvester S. (49) duduk sambil sesekali menengok kerupuk jengkol yang dijemur. Tangannya sibuk meraut kulit pelepah sagu—bahan yang kelak akan dianyam menjadi bagian dari rumah dan sumber penghidupan keluarganya.

Kulit pelepah sagu itu diambil dari sekitar ladang, berjarak kurang lebih satu kilometer dari rumah. Setelah diraut hingga halus, bilah-bilah tipis tersebut disusun secara silang dan tindih-menindih, membentuk pola anyaman yang ia kehendaki.

“Saya mau buat loteng rumah dari anyaman pelepah sagu,” katanya sambil tersenyum. “Bukan orang seni kalau rumahnya tidak ada hasil anyaman,” tambahnya, setengah bercanda.

Beberapa tahun terakhir, Silvester perlahan membenahi rumahnya. Dapur diperluas, ruang kerja ditata, dan peran di dalam keluarga dibagi lebih seimbang. Ia dan istrinya mulai mengatur ulang pekerjaan sehari-hari—dari mengurus anak, berladang, hingga mencari penghasilan tambahan.

“Jangan percuma pergi pelatihan jauh tapi tidak membawa perubahan,” ujarnya. “Pelan-pelan saya ingin memberi contoh kalau masyarakat adat juga bisa berubah dan berkembang.”

Selain hasil ladang seperti pisang, pinang, kelapa, jengkol, dan cengkeh, Silvester kini memperoleh penghasilan tambahan dari anyaman rotan, bambu, dan bahan lokal lain. Pesanan datang dari mulut ke mulut. Dalam sebulan, penghasilannya dari anyaman bisa mencapai Rp. 300.000,- hingga Rp. 1.200.000,- tergantung jumlah pesanan.

“Sudah bisa bantu beli seng untuk atap rumah, beli kayu,” katanya singkat.

Jika cuaca bersahabat, pagi atau sore hari dimanfaatkan Silvester untuk melaut. Ikan hasil tangkapan menjadi lauk keluarga, sekaligus menghemat pengeluaran harian. Sisa uang bisa dialihkan untuk beli beras, gula, atau susu anak-anak. Silvester juga mulai menambah bangunan dapur dan membuat pondok kerja khusus untuk anyaman. Selama ini, bahan dan peralatan masih bergantungan di dalam rumah.

Pembagian kerja di rumah kini pun lebih teratur. Saat Silvester melaut subuh hari dan pulang pagi hari, istrinya membereskan rumah dan mengurus anak-anak. Ketika Silvester sudah kembali, sang istri berangkat ke sawah atau ladang. Siang hari mereka akan makan bersama, lalu Silvester melanjutkan ke ladang hingga sore. Malam hari, anyaman kembali dikerjakan.

“Kalau bahan habis, saya ambil sambil melihat ladang,” katanya.

Selain mengerjakan anyaman sesuai pesanan pelanggan, perlahan terbuka pula jalur pemasaran yang lebih luas bagi karya Silvester. Beberapa hasil anyamannya kini mendapat tempat di pusat kerajinan Dekranasda Mentawai—ruang yang selama ini masih jarang diisi oleh kerajinan anyaman berbahan lokal.

Kesempatan itu muncul saat kegiatan dialog kelompok marginal dengan pemerintah kabupaten Mentawai tentang peningkatan, pemberdayaan, dan layanan dasar, pada November 2025 lalu. Saat itu Silvester membawa beberapa contoh karyanya untuk diperlihatkan yakni, tudung saji, keranjang vas bunga, tampi beras, hingga soso—keranjang pikul khas perempuan Mentawai.

Menurut Sekretaris Dekranasda Mentawai, Yeni Damayanti, kerajinan anyaman di Mentawai masih sangat terbatas, padahal bahan bakunya melimpah dan potensinya besar. Selama ini, kerajinan yang umum dikenal dari Mentawai lebih banyak berupa miniatur kayu atau aksesori adat. Padahal anyaman dari bambu, rotan, dan bahan lokal lain masih memiliki ruang besar untuk berkembang.

“Untuk kerajinan seperti anyaman ini masih sangat kurang di Mentawai. Kehadiran pengrajin seperti Silvester bisa menjadi semangat baru jika terus dikembangkan,” ujarnya saat itu.

Untuk memudahkan pemasaran, Dekranasda Mentawai juga membuka jalur distribusi yang lebih sederhana. Kerajinan seperti milik Silvester tidak perlu diantar langsung ke Tuapejat (ibukota dari Kabupaten Kepulauan Mentawai) dengan biaya besar. Cukup dititipkan melalui kapal antar-pulau menuju Tuapeijat, tanpa dikenakan biaya penitipan.

“Setelah sampai, nanti akan kami jemput atau diambil petugas,” jelas Yeni.

Pesanan pertama yang dikirim Silvester saat itu ada sepuluh buah tampi beras—barang yang kini justru sulit ditemukan di pusat kabupaten. Selebihnya, Silvester didorong untuk terus memproduksi dan menyiapkan stok agar karya anyamannya selalu tersedia.

Bagi Silvester, jalur pemasaran ini bukan sekadar soal menjual barang. Ia menjadi penanda bahwa kerja tangan yang selama ini ia tekuni di rumah dan di sela-sela berladang, perlahan menemukan tempatnya—membuka kemungkinan baru bagi anyaman tradisi untuk terus hidup dan berkembang.

Penulis :