Minar, Perempuan Adat Talang Mamak dari yang Suaranya Menggema di Ruang Publik.

Oleh: Haryanto, KKI Warsi

Minar tak pernah menyangka bahwa dirinya, seorang ibu rumah tangga dari komunitas adat Talang Mamak, akan berdiri di atas panggung terbuka, menyuarakan hak-hak perempuan. Ia adalah seorang petani, ibu dari empat anak, dan istri yang setia menemani suaminya melewati berbagai suka duka dalam kehidupan adat yang sarat nilai-nilai tradisi. Namun kali ini, Minar juga dikenal sebagai sosok perempuan inspiratif yang mewakili suara perempuan adat Talang Mamak di ruang-ruang diskusi publik.

Perjalanan perubahan Minar dimulai saat ia aktif dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) Rimpahan Palorien Simarantihan, sebuah wadah yang mempertemukan perempuan Talang Mamak dalam kegiatan pertanian dan ekonomi keluarga. Dari sanal, ia mulai terlibat dalam diskusi kelas perempuan yang difasilitasi oleh Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi dan KEMITRAAN melalui Program Estungkara, sebuah program yang mendorong pembangunan inklusif dengan memperkuat peran perempuan adat.

Dalam setiap sesi diskusi, Minar perlahan mulai berani berbicara. Awalnya ia hanya mengungkapkan pendapat kecil. Namun dari keberaniannya yang tumbuh itu, potensi Minar mulai terlihat. Tim KKI Warsi kemudian membuka lebih banyak ruang partisipasi bagi Minar. Ia dilibatkan dalam dialog publik, forum Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang), hingga menjadi narasumber dalam forum-forum diskusi yang lebih luas.

Salah satu momen penting dalam perjalanan Minar adalah ketika ia menyampaikan orasi terbuka pada kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (HAKTP) di halaman Kantor Gubernur Jambi. Berdiri di depan publik dengan membawa suara perempuan adat adalah langkah besar yang tidak mudah, namun Minar melakukannya dengan penuh keberanian.

Tidak hanya itu, pada peringatan Hari Perempuan Internasional, Minar didapuk menjadi narasumber dalam talkshow bertema “Perempuan dan Pangan”. Forum ini digelar secara hybrid dan mempertemukannya dengan perwakilan Badan Pangan Nasional (Bapanas) dan Badan Gizi Nasional (BGN). Meskipun sempat gugup karena belum terbiasa dengan teknologi dan forum formal, apalagi dipanelkan dengan narasumber nasional. Namun Minar tetap mampu menyampaikan pemikirannya dengan baik, khususnya tentang bagaimana perempuan adat berkontribusi pada ketahanan pangan melalui praktik bertani, mengolah pangan lokal, dan menjaga keberlanjutan sumber daya alam.

Pengalaman itu menjadi batu loncatan bagi Minar. Dalam peringatan Hari Kartini, ia kembali hadir sebagai narasumber dalam acara Talkshow “Suara dari Tapak”. Kali ini, ia lebih percaya diri. Disandingkan dengan sesama perempuan adat dan difasilitasi oleh pendamping komunitas yang juga menjadi narasumber, Minar berbicara dengan jelas, tegas, dan penuh semangat. Ia membagikan pengalamannya sebagai perempuan adat yang setiap harinya menjaga dapur, ladang, dan nilai-nilai komunitas yang menjaga kedaulatan pangan komunitas adat Talang Mamak.

Partisipasi demi partisipasi membuat Minar tumbuh. Kini, ia tidak hanya belajar untuk lebih percaya diri dalam berbicara, tetapi juga mulai mengajak perempuan Talang Mamak lainnya agar ikut terlibat, belajar bersama, dan menyuarakan aspirasinya. Minar menyadari bahwa kekuatan perempuan adat bukan sekadar ada di rumah atau lading, tetapi juga dapat hadir di ruang pengambilan keputusan serta membawa perubahan bagi komunitasnya.

Kini, Minar adalah simbol perubahan. Ia adalah kader perempuan inspiratif yang telah menapaki perjalanan dari kampung ke ruang-ruang diskusi publik. Dari suara yang dulu nyaris tak terdengar, kini Minar menjadi sumber inspirasi bagi perempuan-perempuan adat lainnya. Minar menjadi simbol yang menunjukkan bahwa keberanian, partisipasi, dan suara dari tapak sangat penting untuk menciptakan pembangunan yang adil dan inklusif.

Penulis :