{"id":3601,"date":"2026-08-13T04:13:21","date_gmt":"2026-08-13T04:13:21","guid":{"rendered":"https:\/\/estungkara.id\/?p=3601"},"modified":"2026-08-13T04:13:22","modified_gmt":"2026-08-13T04:13:22","slug":"membayangkan-sekolah-adat-di-kaluppini","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/estungkara.id\/en\/membayangkan-sekolah-adat-di-kaluppini\/","title":{"rendered":"Membayangkan Sekolah Adat di Kaluppini"},"content":{"rendered":"<p class=\"wp-block-paragraph\">By: <strong>Sulawesi Cipta Forum (SCF)<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>\u201cJika sekolah adat itu ada, bagaimana bentuknya?\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pertanyaan yang disampaikan Ma\u2019ruf, fasilitator FGD, itu kemudian dijawab peserta dengan cara yang sederhana: menggambar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di atas kertas plano, aparat desa, perempuan, dan anak muda menuangkan bayangan mereka tentang sekolah adat yang mereka inginkan. FGD ini difasilitasi oleh Sulawesi Cipta Forum (SCF) bersama Pemerintah Desa Kaluppini dan kolektif Sappulo Tallu, sebuah kelompok yang berfokus pada isu kebudayaan di Kaluppini.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Satu per satu peserta kemudian menempelkan gambar mereka pada flipchart yang telah disediakan di dinding. Gambar-gambar itu menunjukkan bentuk sekolah adat yang beragam.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ada yang menggambarkan orang-orang berkumpul di Datte-Datte, salah satu situs tempat berbagai ritual di Kaluppini dilaksanakan. Ada yang menggambar anyaman dan menuliskan harapan agar sekolah adat nantinya menyediakan pelatihan menganyam. Ada pula yang menggambarkan kolaborasi antara sekolah budaya, pemerintah desa, masyarakat adat, dan pemangku adat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sementara peserta lainnya membayangkan sekolah adat sebagai ruang untuk belajar membaca dan menulis aksara serta mengenalkan kembali permainan tradisional.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dari gambar-gambar tersebut, terlihat bahwa sekolah adat yang dibayangkan peserta tidak selalu berbentuk ruang kelas dengan meja dan papan tulis. Bagi mereka, belajar tentang adat dapat berlangsung di ruang-ruang tempat kebudayaan itu sendiri dipraktikkan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun, sebelum membicarakan seperti apa sekolah adat akan dibangun, peserta terlebih dahulu memetakan persoalan yang membuat pengetahuan adat semakin sulit dipelajari dan diwariskan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Tantangan yang Dihadapi<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pada sesi berikutnya, peserta diminta menuliskan tantangan yang dihadapi masyarakat adat Kaluppini saat ini, terutama berkaitan dengan akses generasi muda terhadap pengetahuan adat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mayoritas peserta melihat bahwa minat anak muda untuk mempelajari adat istiadat sebenarnya masih ada. Persoalannya, minat tersebut belum selalu diikuti dengan kesempatan dan ruang belajar yang memadai.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Salah satu tantangannya adalah rasa canggung dan malu ketika anak muda ingin bertanya kepada para tetua atau orang-orang yang memiliki pengetahuan tentang adat Kaluppini.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Taufik, salah satu peserta, menjelaskan bahwa banyak anak muda belum mengetahui apa yang perlu mereka tanyakan ketika hendak mulai mempelajari adat. Pada saat yang sama, mereka khawatir pertanyaan yang disampaikan justru kurang tepat. Keraguan tersebut membuat proses belajar terkadang tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Persoalan lainnya berkaitan dengan perubahan kehidupan anak muda Kaluppini. Ica menyampaikan bahwa pekerjaan dan pendidikan membuat sebagian anak muda harus meninggalkan kampung untuk melanjutkan pendidikan maupun bekerja.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bagi Taufik, kondisi tersebut berpengaruh pada kesempatan anak muda untuk mengikuti berbagai kegiatan adat. Ketika tinggal jauh dari kampung, mereka tidak lagi dapat mengikuti tradisi dan proses belajar budaya secara rutin sebagaimana ketika masih berada di Kaluppini.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di tengah perubahan tersebut, beberapa praktik kebudayaan juga mulai jarang ditemui.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ibu Sutira menceritakan bahwa permainan tradisional seperti bicco mulai ditinggalkan karena anak-anak kini lebih banyak mengakses permainan melalui gawai. Saidi juga menyampaikan bahwa Ma\u2019siallo, yang dahulu menjadi bagian dari praktik pertanian masyarakat Kaluppini, kini mulai hilang.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Persoalan yang muncul dalam diskusi akhirnya bukan hanya tentang apakah generasi muda masih memiliki minat terhadap adat. Lebih jauh, peserta mulai melihat adanya jarak yang semakin lebar antara generasi muda dengan sumber-sumber pengetahuan budaya yang sebelumnya hadir dalam kehidupan sehari-hari.<\/p>\n\n\n<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"769\" data-src=\"https:\/\/estungkara.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/DSC02998-1024x769.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-3603 lazyload\" data-srcset=\"https:\/\/estungkara.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/DSC02998-1024x769.jpg 1024w, https:\/\/estungkara.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/DSC02998-300x225.jpg 300w, https:\/\/estungkara.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/DSC02998-768x577.jpg 768w, https:\/\/estungkara.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/DSC02998-1536x1153.jpg 1536w, https:\/\/estungkara.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/DSC02998-2048x1538.jpg 2048w, https:\/\/estungkara.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/DSC02998-16x12.jpg 16w\" data-sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" src=\"data:image\/gif;base64,R0lGODlhAQABAAAAACH5BAEKAAEALAAAAAABAAEAAAICTAEAOw==\" style=\"--smush-placeholder-width: 1024px; --smush-placeholder-aspect-ratio: 1024\/769;\" \/><noscript><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"769\" src=\"https:\/\/estungkara.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/DSC02998-1024x769.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-3603\" srcset=\"https:\/\/estungkara.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/DSC02998-1024x769.jpg 1024w, https:\/\/estungkara.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/DSC02998-300x225.jpg 300w, https:\/\/estungkara.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/DSC02998-768x577.jpg 768w, https:\/\/estungkara.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/DSC02998-1536x1153.jpg 1536w, https:\/\/estungkara.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/DSC02998-2048x1538.jpg 2048w, https:\/\/estungkara.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/DSC02998-16x12.jpg 16w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/noscript><figcaption class=\"wp-element-caption\"><em>Foto: Tim Sulawesi Cipta Forum<\/em> <em>(SCF)<\/em><\/figcaption><\/figure>\n<\/div>\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Memetakan Pengetahuan Bersama<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Setelah mengidentifikasi tantangan, peserta kemudian dibagi menjadi tiga kelompok. Ma\u2019ruf mengarahkan masing-masing kelompok untuk memetakan empat hal: tantangan yang dihadapi, pengetahuan yang dibutuhkan, sumber pengetahuan, dan klaster pengetahuan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Diskusi kemudian membawa peserta pada persoalan yang lebih spesifik, termasuk mengenai posisi perempuan dan keberlanjutan bahasa Kaluppini.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mewakili kelompoknya, Isra menyampaikan bahwa perempuan Kaluppini sebenarnya telah cukup aktif berpartisipasi dalam berbagai kegiatan, termasuk kegiatan adat. Namun, menurut kelompoknya, partisipasi tersebut masih perlu diperkuat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pendidikan kepemimpinan dan keterampilan komunikasi dinilai penting agar perempuan memiliki kapasitas yang lebih kuat dalam pengambilan keputusan. Kelompok tersebut juga melihat perlunya memperluas akses perempuan terhadap sumber daya dan kesempatan pengembangan diri.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pada saat yang sama, keterlibatan perempuan juga berkaitan dengan pembagian tanggung jawab di dalam keluarga. Pembagian pekerjaan domestik dan pengasuhan yang lebih merata dapat memberikan perempuan ruang dan waktu yang lebih besar untuk berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat, termasuk dalam sekolah adat maupun forum pengambilan keputusan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sementara itu, Ramlah mengangkat persoalan lain: semakin jarangnya penggunaan sejumlah kosakata dalam Bahasa Kaluppini.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menurutnya, sebagian kosakata kini sudah tidak banyak digunakan dalam percakapan sehari-hari. Seorang orang tua di Kaluppini juga pernah bercerita bahwa sebagian anak muda tidak lagi mengenal sejumlah kosakata lama, salah satunya sondong, yang berarti kamar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bagi Ramlah, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya mendokumentasikan pengetahuan adat, termasuk bahasa, melalui arsip tertulis. Dokumentasi dapat menjadi salah satu sumber belajar bagi generasi muda sekaligus membantu mencatat pengetahuan yang semakin jarang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun, bagi peserta, dokumentasi hanyalah salah satu bagian dari upaya menjaga pengetahuan adat. Pengetahuan yang telah dicatat tetap membutuhkan ruang untuk dipelajari dan dipraktikkan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Dari Persoalan Menuju Gagasan Sekolah Adat<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menjelang akhir kegiatan, pembicaraan perlahan bergeser dari memetakan persoalan menuju membicarakan apa yang dapat dilakukan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Perwakilan dusun mengajak berbagai pihak untuk membangun kolaborasi yang lebih erat dalam mengintegrasikan nilai-nilai budaya ke dalam pendidikan formal maupun nonformal. Dalam diskusi tersebut, sekolah adat muncul sebagai salah satu gagasan yang dapat menjadi ruang belajar bagi masyarakat Kaluppini.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sekolah adat tidak hanya dibayangkan sebagai tempat untuk mengenalkan kembali pengetahuan leluhur. Ia juga diharapkan menjadi ruang bagi generasi muda untuk belajar melalui praktik dan berinteraksi langsung dengan sumber-sumber pengetahuan yang ada di komunitas.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Karena itu, gambaran sekolah adat yang muncul sejak awal FGD menjadi penting. Ada Datte-Datte sebagai ruang belajar. Ada anyaman sebagai keterampilan yang dapat dipelajari. Ada aksara dan bahasa Kaluppini yang perlu didokumentasikan dan dikenalkan kembali. Ada pula permainan tradisional yang ingin dihidupkan kembali.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Semua itu menunjukkan bahwa bagi peserta, sekolah adat tidak harus terpisah dari kehidupan masyarakat. Justru kehidupan masyarakatlah yang dapat menjadi bagian dari proses belajar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Perwakilan pemuda kemudian mengingatkan bahwa upaya tersebut membutuhkan proses. Sekolah adat diharapkan tidak sekadar mengulang cara-cara lama dalam mengajarkan budaya, tetapi juga dapat menemukan metode pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan generasi muda saat ini.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dengan demikian, sekolah adat diharapkan dapat menjadi ruang pertemuan antara pengetahuan yang diwariskan dengan perubahan yang sedang dihadapi masyarakat Kaluppini.<\/p>\n\n\n<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"769\" data-src=\"https:\/\/estungkara.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/DSC02923-1024x769.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-3604 lazyload\" data-srcset=\"https:\/\/estungkara.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/DSC02923-1024x769.jpg 1024w, https:\/\/estungkara.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/DSC02923-300x225.jpg 300w, https:\/\/estungkara.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/DSC02923-768x577.jpg 768w, https:\/\/estungkara.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/DSC02923-1536x1153.jpg 1536w, https:\/\/estungkara.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/DSC02923-2048x1538.jpg 2048w, https:\/\/estungkara.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/DSC02923-16x12.jpg 16w\" data-sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" src=\"data:image\/gif;base64,R0lGODlhAQABAAAAACH5BAEKAAEALAAAAAABAAEAAAICTAEAOw==\" style=\"--smush-placeholder-width: 1024px; --smush-placeholder-aspect-ratio: 1024\/769;\" \/><noscript><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"769\" src=\"https:\/\/estungkara.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/DSC02923-1024x769.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-3604\" srcset=\"https:\/\/estungkara.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/DSC02923-1024x769.jpg 1024w, https:\/\/estungkara.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/DSC02923-300x225.jpg 300w, https:\/\/estungkara.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/DSC02923-768x577.jpg 768w, https:\/\/estungkara.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/DSC02923-1536x1153.jpg 1536w, https:\/\/estungkara.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/DSC02923-2048x1538.jpg 2048w, https:\/\/estungkara.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/DSC02923-16x12.jpg 16w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/noscript><figcaption class=\"wp-element-caption\"><em>Foto: Tim Sulawesi Cipta Forum (SCF)<\/em><\/figcaption><\/figure>\n<\/div>\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Menjadikan Gagasan sebagai Langkah Bersama<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menutup rangkaian kegiatan, Kepala Desa Kaluppini menyampaikan apresiasi kepada peserta yang telah terlibat dalam diskusi serta kepada SCF yang memfasilitasi ruang dialog tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menurutnya, berbagai persoalan yang telah dipetakan tidak seharusnya berhenti sebagai hasil diskusi. Temuan dan gagasan tersebut perlu diterjemahkan menjadi langkah yang dapat dilakukan bersama.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Gagasan sekolah adat menjadi salah satu titik awal yang muncul dari proses tersebut. Bentuknya mungkin belum sepenuhnya ditentukan. Pengetahuan apa yang akan diprioritaskan, siapa yang akan menjadi sumber belajar, bagaimana generasi muda terlibat, dan bagaimana pemerintah desa serta pemangku adat mengambil peran masih membutuhkan pembahasan lebih lanjut.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun, melalui FGD ini, masyarakat Kaluppini telah mulai memetakan apa yang mereka hadapi dan seperti apa ruang belajar yang mereka bayangkan. Pada akhirnya, pertanyaan \u201cjika sekolah adat itu ada, bagaimana bentuknya?\u201d tidak berhenti pada gambar yang ditempel di dinding. Pertanyaan itu membuka pembicaraan yang lebih luas tentang bagaimana pengetahuan adat dipelajari, siapa yang memiliki akses terhadapnya, dan bagaimana pengetahuan tersebut dapat terus hidup di tengah perubahan kehidupan masyarakat Kaluppini<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Sulawesi Cipta Forum (SCF) \u201cJika sekolah adat itu ada, bagaimana bentuknya?\u201d Pertanyaan yang disampaikan Ma\u2019ruf, fasilitator FGD, itu kemudian dijawab peserta dengan cara yang sederhana: menggambar. Di atas kertas plano, aparat desa, perempuan, dan anak muda menuangkan bayangan mereka tentang sekolah adat yang mereka inginkan. FGD ini difasilitasi oleh Sulawesi Cipta Forum (SCF) bersama [&hellip;]<\/p>","protected":false},"author":4,"featured_media":3602,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-3601","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v20.3 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Membayangkan Sekolah Adat di Kaluppini - Estungkara<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/estungkara.id\/en\/membayangkan-sekolah-adat-di-kaluppini\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_GB\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Membayangkan Sekolah Adat di Kaluppini - Estungkara\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Oleh: Sulawesi Cipta Forum (SCF) \u201cJika sekolah adat itu ada, bagaimana bentuknya?\u201d Pertanyaan yang disampaikan Ma\u2019ruf, fasilitator FGD, itu kemudian dijawab peserta dengan cara yang sederhana: menggambar. Di atas kertas plano, aparat desa, perempuan, dan anak muda menuangkan bayangan mereka tentang sekolah adat yang mereka inginkan. FGD ini difasilitasi oleh Sulawesi Cipta Forum (SCF) bersama [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/estungkara.id\/en\/membayangkan-sekolah-adat-di-kaluppini\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Estungkara\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/KemitraanIndonesia\/\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-08-13T04:13:21+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-08-13T04:13:22+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"http:\/\/estungkara.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/DSC02915-scaled.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"2560\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1922\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"yael stefany\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@kemitraan_ind\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@kemitraan_ind\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"yael stefany\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimated reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"6 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/estungkara.id\/membayangkan-sekolah-adat-di-kaluppini\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/estungkara.id\/membayangkan-sekolah-adat-di-kaluppini\/\"},\"author\":{\"name\":\"yael stefany\",\"@id\":\"https:\/\/estungkara.id\/#\/schema\/person\/16a5760478fa1c1162ec3f93c9fb3d84\"},\"headline\":\"Membayangkan Sekolah Adat di Kaluppini\",\"datePublished\":\"2026-08-13T04:13:21+00:00\",\"dateModified\":\"2026-08-13T04:13:22+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/estungkara.id\/membayangkan-sekolah-adat-di-kaluppini\/\"},\"wordCount\":1149,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/estungkara.id\/#organization\"},\"articleSection\":[\"Uncategorized\"],\"inLanguage\":\"en-GB\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\/\/estungkara.id\/membayangkan-sekolah-adat-di-kaluppini\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/estungkara.id\/membayangkan-sekolah-adat-di-kaluppini\/\",\"url\":\"https:\/\/estungkara.id\/membayangkan-sekolah-adat-di-kaluppini\/\",\"name\":\"Membayangkan Sekolah Adat di Kaluppini - Estungkara\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/estungkara.id\/#website\"},\"datePublished\":\"2026-08-13T04:13:21+00:00\",\"dateModified\":\"2026-08-13T04:13:22+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/estungkara.id\/membayangkan-sekolah-adat-di-kaluppini\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-GB\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/estungkara.id\/membayangkan-sekolah-adat-di-kaluppini\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/estungkara.id\/membayangkan-sekolah-adat-di-kaluppini\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/estungkara.id\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Membayangkan Sekolah Adat di Kaluppini\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/estungkara.id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/estungkara.id\/\",\"name\":\"Estungkara\",\"description\":\"Inklusi Sosial, Masyarakat Adat, Perempuan Adat, Inklusi Untuk Semua, Cerita Inklusi, Wujudkan Indonesia Rumah Untuk Semua\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/estungkara.id\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/estungkara.id\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-GB\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/estungkara.id\/#organization\",\"name\":\"Kemitraan\",\"url\":\"https:\/\/estungkara.id\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-GB\",\"@id\":\"https:\/\/estungkara.id\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/estungkara.id\/wp-content\/uploads\/2023\/12\/cropped-estung-kemitraan-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/estungkara.id\/wp-content\/uploads\/2023\/12\/cropped-estung-kemitraan-logo.png\",\"width\":614,\"height\":148,\"caption\":\"Kemitraan\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/estungkara.id\/#\/schema\/logo\/image\/\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/www.facebook.com\/KemitraanIndonesia\/\",\"https:\/\/twitter.com\/kemitraan_ind\",\"https:\/\/www.linkedin.com\/company\/kemitraanindonesia\/\",\"https:\/\/www.instagram.com\/kemitraan_ind\/\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/estungkara.id\/#\/schema\/person\/16a5760478fa1c1162ec3f93c9fb3d84\",\"name\":\"yael stefany\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-GB\",\"@id\":\"https:\/\/estungkara.id\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6d115e593a36e02ba9b69c32f444da9fc61f51db5732ba264b9903e3c5a356e?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6d115e593a36e02ba9b69c32f444da9fc61f51db5732ba264b9903e3c5a356e?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"yael stefany\"},\"url\":\"https:\/\/estungkara.id\/en\/author\/yael\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Membayangkan Sekolah Adat di Kaluppini - Estungkara","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/estungkara.id\/en\/membayangkan-sekolah-adat-di-kaluppini\/","og_locale":"en_GB","og_type":"article","og_title":"Membayangkan Sekolah Adat di Kaluppini - Estungkara","og_description":"Oleh: Sulawesi Cipta Forum (SCF) \u201cJika sekolah adat itu ada, bagaimana bentuknya?\u201d Pertanyaan yang disampaikan Ma\u2019ruf, fasilitator FGD, itu kemudian dijawab peserta dengan cara yang sederhana: menggambar. Di atas kertas plano, aparat desa, perempuan, dan anak muda menuangkan bayangan mereka tentang sekolah adat yang mereka inginkan. FGD ini difasilitasi oleh Sulawesi Cipta Forum (SCF) bersama [&hellip;]","og_url":"https:\/\/estungkara.id\/en\/membayangkan-sekolah-adat-di-kaluppini\/","og_site_name":"Estungkara","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/KemitraanIndonesia\/","article_published_time":"2026-08-13T04:13:21+00:00","article_modified_time":"2026-08-13T04:13:22+00:00","og_image":[{"width":2560,"height":1922,"url":"http:\/\/estungkara.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/DSC02915-scaled.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"yael stefany","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@kemitraan_ind","twitter_site":"@kemitraan_ind","twitter_misc":{"Written by":"yael stefany","Estimated reading time":"6 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/estungkara.id\/membayangkan-sekolah-adat-di-kaluppini\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/estungkara.id\/membayangkan-sekolah-adat-di-kaluppini\/"},"author":{"name":"yael stefany","@id":"https:\/\/estungkara.id\/#\/schema\/person\/16a5760478fa1c1162ec3f93c9fb3d84"},"headline":"Membayangkan Sekolah Adat di Kaluppini","datePublished":"2026-08-13T04:13:21+00:00","dateModified":"2026-08-13T04:13:22+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/estungkara.id\/membayangkan-sekolah-adat-di-kaluppini\/"},"wordCount":1149,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/estungkara.id\/#organization"},"articleSection":["Uncategorized"],"inLanguage":"en-GB","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/estungkara.id\/membayangkan-sekolah-adat-di-kaluppini\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/estungkara.id\/membayangkan-sekolah-adat-di-kaluppini\/","url":"https:\/\/estungkara.id\/membayangkan-sekolah-adat-di-kaluppini\/","name":"Membayangkan Sekolah Adat di Kaluppini - Estungkara","isPartOf":{"@id":"https:\/\/estungkara.id\/#website"},"datePublished":"2026-08-13T04:13:21+00:00","dateModified":"2026-08-13T04:13:22+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/estungkara.id\/membayangkan-sekolah-adat-di-kaluppini\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-GB","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/estungkara.id\/membayangkan-sekolah-adat-di-kaluppini\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/estungkara.id\/membayangkan-sekolah-adat-di-kaluppini\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/estungkara.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Membayangkan Sekolah Adat di Kaluppini"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/estungkara.id\/#website","url":"https:\/\/estungkara.id\/","name":"Estungkara","description":"Inklusi Sosial, Masyarakat Adat, Perempuan Adat, Inklusi Untuk Semua, Cerita Inklusi, Wujudkan Indonesia Rumah Untuk Semua","publisher":{"@id":"https:\/\/estungkara.id\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/estungkara.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-GB"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/estungkara.id\/#organization","name":"Kemitraan","url":"https:\/\/estungkara.id\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-GB","@id":"https:\/\/estungkara.id\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/estungkara.id\/wp-content\/uploads\/2023\/12\/cropped-estung-kemitraan-logo.png","contentUrl":"https:\/\/estungkara.id\/wp-content\/uploads\/2023\/12\/cropped-estung-kemitraan-logo.png","width":614,"height":148,"caption":"Kemitraan"},"image":{"@id":"https:\/\/estungkara.id\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/KemitraanIndonesia\/","https:\/\/twitter.com\/kemitraan_ind","https:\/\/www.linkedin.com\/company\/kemitraanindonesia\/","https:\/\/www.instagram.com\/kemitraan_ind\/"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/estungkara.id\/#\/schema\/person\/16a5760478fa1c1162ec3f93c9fb3d84","name":"yael stefany","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-GB","@id":"https:\/\/estungkara.id\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6d115e593a36e02ba9b69c32f444da9fc61f51db5732ba264b9903e3c5a356e?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6d115e593a36e02ba9b69c32f444da9fc61f51db5732ba264b9903e3c5a356e?s=96&d=mm&r=g","caption":"yael stefany"},"url":"https:\/\/estungkara.id\/en\/author\/yael\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/estungkara.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3601","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/estungkara.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/estungkara.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/estungkara.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/estungkara.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3601"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/estungkara.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3601\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3605,"href":"https:\/\/estungkara.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3601\/revisions\/3605"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/estungkara.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3602"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/estungkara.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3601"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/estungkara.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3601"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/estungkara.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3601"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}