{"id":3576,"date":"2026-07-23T14:21:51","date_gmt":"2026-07-23T14:21:51","guid":{"rendered":"https:\/\/estungkara.id\/?p=3576"},"modified":"2026-07-23T14:21:54","modified_gmt":"2026-07-23T14:21:54","slug":"dua-dekade-menunggu-listrik-di-rombong-ngilo","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/estungkara.id\/en\/dua-dekade-menunggu-listrik-di-rombong-ngilo\/","title":{"rendered":"Two Decades of Waiting for Electricity in Rombong Ngilo"},"content":{"rendered":"<p class=\"wp-block-paragraph\">By: <strong>Hesti Julianawati, KKI WARSI<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menjelang magrib, aktivitas di pemukiman Rombong Ngilo mulai berubah. Asap tipis keluar dari botol-botol bekas yang disulap menjadi lampu minyak. Api kecil di ujung sumbu menjadi satu-satunya penerangan ketika malam tiba. Cahayanya redup, tidak cukup menerangi seluruh ruangan, sementara asapnya perlahan memenuhi rumah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Begitulah malam berlangsung selama bertahun-tahun bagi sekitar 20 keluarga Suku Anak Dalam (SAD) yang tinggal di Desa Pauh Menang, Kabupaten Merangin, Jambi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Padahal, kehidupan mereka telah banyak berubah. Lebih dari dua dekade lalu, kelompok yang dipimpin Ngilo Temenggung ini mulai menetap di sekitar desa. Mereka perlahan meninggalkan kehidupan nomaden, membuka kebun, mengenal sistem jual beli, hingga berinvestasi membeli lahan. Anak-anak mulai bersekolah. Sebagian keluarga memiliki telepon genggam sebagai alat komunikasi dan kebutuhan pekerjaan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun satu layanan dasar tetap belum mereka nikmati: listrik.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketika sebagian besar desa telah terbiasa menyalakan lampu hanya dengan menekan sakelar, warga Rombong Ngilo masih mengandalkan lampu minyak atau berbagi listrik dari genset bersama yang hanya menyala pada waktu tertentu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kondisi itu membuat banyak aktivitas harus selesai sebelum malam datang. Anak-anak kesulitan belajar karena penerangan terbatas. Mengisi daya telepon genggam harus bergantian menggunakan genset komunal yang biayanya ditanggung bersama setiap bulan. Air pun belum dapat dipompa menggunakan mesin karena pasokan listrik tidak tersedia.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bagi Rombong Ngilo, listrik bukan sekadar soal kenyamanan. Ia menjadi prasyarat agar kehidupan yang sudah berubah dapat terus bergerak maju. Keinginan memperoleh listrik sebenarnya bukan persoalan baru. Dalam berbagai musyawarah desa, pertemuan dengan pemerintah kabupaten, hingga forum di tingkat provinsi, kebutuhan itu terus disampaikan. Jawabannya hampir selalu sama: menunggu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pemerintah menyampaikan bahwa pembangunan jaringan membutuhkan anggaran dan harus mengikuti prioritas yang telah ditetapkan. Di sisi lain, komunitas tidak pernah mengetahui kapan giliran mereka akan tiba. Mereka bahkan pernah mencoba mencari jalan keluar sendiri.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Melalui dukungan misionaris yang selama ini mendampingi komunitas, warga mengumpulkan dana untuk membeli material jaringan listrik secara swadaya. Harapannya sederhana, jika sebagian kebutuhan sudah tersedia, proses pemasangan bisa segera dilakukan. Harapan itu berhenti di tengah jalan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Material yang dibeli ternyata tidak memenuhi standar teknis PLN. Peralatan yang sesuai spesifikasi hanya dapat diperoleh melalui PLN, sehingga seluruh rencana harus diulang dari awal. Hambatan lain juga tidak kalah rumit.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jarak pemukiman menuju trafo terdekat mencapai lebih dari dua kilometer. Dengan jarak tersebut, kualitas arus listrik dikhawatirkan tidak stabil. Jalur pemasangan jaringan juga harus melintasi kebun milik warga desa sehingga membutuhkan izin dari setiap pemilik lahan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di saat persoalan teknis belum selesai, rencana bantuan pemerintah daerah ikut tertunda karena kebijakan efisiensi anggaran. Semakin lama menunggu, semakin besar pula rasa kecewa yang muncul. Warga mulai membandingkan kondisi mereka dengan kelompok Suku Anak Dalam lain yang justru telah menikmati listrik meskipun tinggal lebih jauh dari pusat desa.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Perasaan itu suatu hari muncul dalam percakapan dengan pendamping dari WARSI. &#8220;Percuma kita selalu ikut kegiatan dan menyuarakan listrik di dalam, toh tidak ada perubahan yang terjadi.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kalimat Ngilo Temenggung itu bukan sekadar ungkapan kecewa. Ia menjadi pengingat bahwa proses advokasi yang terus dilakukan belum benar-benar menghasilkan perubahan yang dirasakan masyarakat.<\/p>\n\n\n<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"768\" height=\"1024\" data-src=\"https:\/\/estungkara.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Foto-Hesti-768x1024.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-3578 lazyload\" data-srcset=\"https:\/\/estungkara.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Foto-Hesti-768x1024.jpeg 768w, https:\/\/estungkara.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Foto-Hesti-225x300.jpeg 225w, https:\/\/estungkara.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Foto-Hesti-9x12.jpeg 9w, https:\/\/estungkara.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Foto-Hesti.jpeg 960w\" data-sizes=\"auto, (max-width: 768px) 100vw, 768px\" src=\"data:image\/gif;base64,R0lGODlhAQABAAAAACH5BAEKAAEALAAAAAABAAEAAAICTAEAOw==\" style=\"--smush-placeholder-width: 768px; --smush-placeholder-aspect-ratio: 768\/1024;\" \/><noscript><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"768\" height=\"1024\" src=\"https:\/\/estungkara.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Foto-Hesti-768x1024.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-3578\" srcset=\"https:\/\/estungkara.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Foto-Hesti-768x1024.jpeg 768w, https:\/\/estungkara.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Foto-Hesti-225x300.jpeg 225w, https:\/\/estungkara.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Foto-Hesti-9x12.jpeg 9w, https:\/\/estungkara.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Foto-Hesti.jpeg 960w\" sizes=\"auto, (max-width: 768px) 100vw, 768px\" \/><\/noscript><figcaption class=\"wp-element-caption\">Foto: Hesti Julianawati\/KKI WARSI<\/figcaption><\/figure>\n<\/div>\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Memasuki 2026, pendekatan yang dilakukan mulai berubah. Alih-alih hanya menyampaikan aspirasi, WARSI bersama Pemerintah Desa Pauh Menang memetakan satu per satu hambatan yang membuat listrik tidak kunjung masuk ke pemukiman Rombong Ngilo. Dari proses itu muncul keputusan penting.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pemerintah desa sebelumnya telah mengalokasikan sekitar Rp13 juta untuk membeli genset komunal. Setelah berdiskusi dengan komunitas, anggaran tersebut dialihkan untuk membantu pemasangan sambungan listrik permanen. Komunitas pun ikut mengambil bagian.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Melalui gotong royong, warga mengumpulkan dana untuk membeli dua gulung kabel dan 20 tiang galvanis. Nilainya memang belum mencukupi seluruh kebutuhan, tetapi langkah itu menunjukkan bahwa mereka tidak hanya menunggu bantuan datang.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kebutuhan yang masih belum terpenuhi kemudian dibawa kepada Alyatama, sentra Kementerian Sosial yang memiliki mandat memberikan layanan bagi kelompok rentan. Proposal disusun berdasarkan kebutuhan riil di lapangan dan dikonsultasikan bersama PLN Bangko dan PLN Pamenang agar seluruh spesifikasi material sesuai dengan standar teknis.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hasilnya, Alyatama menyetujui bantuan awal sebesar Rp24,5 juta. Ketika perhitungan akhir menunjukkan masih ada kekurangan material, mereka kembali memberikan tambahan Rp25 juta sehingga total dukungan mencapai Rp49,5 juta. Menurut Dedy, pendamping dari Alyatama, keputusan tersebut sejalan dengan mandat lembaga. &#8220;Suku Anak Dalam masuk dalam target layanan kami sebagai kelompok rentan dan berada pada desil satu. Karena itu mereka menjadi prioritas.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun pendanaan belum otomatis menyelesaikan persoalan. PLN menjelaskan bahwa komunitas memiliki dua pilihan: menunggu pembangunan jaringan desa yang waktunya belum dapat dipastikan, atau membangun jaringan secara swadaya dengan pembiayaan ditanggung bersama.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pilihan kedua diputuskan. Bersamaan dengan itu, WARSI dan Pemerintah Desa Pauh Menang mendatangi satu per satu pemilik kebun yang akan dilintasi jaringan listrik. Melalui musyawarah, izin akhirnya diperoleh sehingga pembangunan dapat dilakukan tanpa konflik lahan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di tengah proses tersebut, datang kabar yang tidak diperkirakan sebelumnya. Proposal yang pernah diajukan kepada PLN ternyata masuk dalam pembahasan Program Listrik Desa (Lisdes). Tim kemudian melakukan peninjauan langsung ke pemukiman Rombong Ngilo. Hasil peninjauan itu mengubah skala pekerjaan. Tidak hanya membantu penyediaan jaringan listrik menuju pemukiman, Program Lisdes juga menyiapkan penambahan trafo agar tegangan listrik tetap stabil.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Perbaikan tidak berhenti di sana. Tiang-tiang listrik lama di Desa Pauh Menang yang selama bertahun-tahun digunakan warga turut diganti dengan tiang berkapasitas lebih besar sebagai bagian dari pembangunan jaringan menuju Rombong Ngilo.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Artinya, manfaat pembangunan tidak hanya dirasakan oleh komunitas Suku Anak Dalam, tetapi juga masyarakat desa secara keseluruhan. Bagi Rombong Ngilo, hadirnya listrik memang mengubah malam mereka.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Anak-anak kini memiliki penerangan yang lebih layak untuk belajar. Keluarga tidak lagi bergantung pada lampu minyak yang menghasilkan asap. Telepon genggam dapat diisi daya dari rumah, dan penggunaan pompa air mulai memungkinkan. Namun perubahan yang paling penting bukan hanya soal lampu yang akhirnya menyala.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Perjalanan memperoleh listrik menunjukkan bahwa akses terhadap layanan dasar bagi masyarakat adat sering kali tidak berhenti pada persoalan infrastruktur. Ia dipengaruhi oleh birokrasi, standar teknis, koordinasi antarinstansi, hingga kemampuan menjembatani berbagai kepentingan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Selama lebih dari dua puluh tahun, masyarakat Rombong Ngilo telah berusaha beradaptasi dengan kehidupan desa. Mereka membangun kebun, mengikuti musyawarah, dan terlibat dalam berbagai proses pembangunan. Tetapi akses terhadap listrik baru terwujud ketika komunitas, pemerintah desa, lembaga pendamping, Kementerian Sosial, dan PLN bekerja bersama menyelesaikan hambatan yang selama ini saling bertumpuk.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Cerita Rombong Ngilo pada akhirnya bukan sekadar tentang listrik yang akhirnya menyala. Ia memperlihatkan bahwa hak atas layanan dasar sering kali tidak cukup diperjuangkan hanya dengan menyampaikan kebutuhan. Hak tersebut membutuhkan ruang dialog, koordinasi lintas lembaga, dan kemauan untuk mencari jalan keluar bersama agar kelompok yang selama ini berada di pinggiran benar-benar dapat menjadi bagian dari pembangunan.<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Hesti Julianawati, KKI WARSI Menjelang magrib, aktivitas di pemukiman Rombong Ngilo mulai berubah. Asap tipis keluar dari botol-botol bekas yang disulap menjadi lampu minyak. Api kecil di ujung sumbu menjadi satu-satunya penerangan ketika malam tiba. Cahayanya redup, tidak cukup menerangi seluruh ruangan, sementara asapnya perlahan memenuhi rumah. Begitulah malam berlangsung selama bertahun-tahun bagi sekitar [&hellip;]<\/p>","protected":false},"author":4,"featured_media":3577,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-3576","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v20.3 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Dua Dekade Menunggu Listrik di Rombong Ngilo - Estungkara<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/estungkara.id\/en\/dua-dekade-menunggu-listrik-di-rombong-ngilo\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_GB\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Dua Dekade Menunggu Listrik di Rombong Ngilo - Estungkara\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Oleh: Hesti Julianawati, KKI WARSI Menjelang magrib, aktivitas di pemukiman Rombong Ngilo mulai berubah. Asap tipis keluar dari botol-botol bekas yang disulap menjadi lampu minyak. Api kecil di ujung sumbu menjadi satu-satunya penerangan ketika malam tiba. Cahayanya redup, tidak cukup menerangi seluruh ruangan, sementara asapnya perlahan memenuhi rumah. Begitulah malam berlangsung selama bertahun-tahun bagi sekitar [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/estungkara.id\/en\/dua-dekade-menunggu-listrik-di-rombong-ngilo\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Estungkara\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/KemitraanIndonesia\/\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-07-23T14:21:51+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-07-23T14:21:54+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"http:\/\/estungkara.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Foto-Hesti-2.jpeg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1560\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1560\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"yael stefany\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@kemitraan_ind\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@kemitraan_ind\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"yael stefany\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimated reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"5 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/estungkara.id\/dua-dekade-menunggu-listrik-di-rombong-ngilo\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/estungkara.id\/dua-dekade-menunggu-listrik-di-rombong-ngilo\/\"},\"author\":{\"name\":\"yael stefany\",\"@id\":\"https:\/\/estungkara.id\/#\/schema\/person\/16a5760478fa1c1162ec3f93c9fb3d84\"},\"headline\":\"Dua Dekade Menunggu Listrik di Rombong Ngilo\",\"datePublished\":\"2026-07-23T14:21:51+00:00\",\"dateModified\":\"2026-07-23T14:21:54+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/estungkara.id\/dua-dekade-menunggu-listrik-di-rombong-ngilo\/\"},\"wordCount\":1068,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/estungkara.id\/#organization\"},\"articleSection\":[\"Uncategorized\"],\"inLanguage\":\"en-GB\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\/\/estungkara.id\/dua-dekade-menunggu-listrik-di-rombong-ngilo\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/estungkara.id\/dua-dekade-menunggu-listrik-di-rombong-ngilo\/\",\"url\":\"https:\/\/estungkara.id\/dua-dekade-menunggu-listrik-di-rombong-ngilo\/\",\"name\":\"Dua Dekade Menunggu Listrik di Rombong Ngilo - Estungkara\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/estungkara.id\/#website\"},\"datePublished\":\"2026-07-23T14:21:51+00:00\",\"dateModified\":\"2026-07-23T14:21:54+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/estungkara.id\/dua-dekade-menunggu-listrik-di-rombong-ngilo\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-GB\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/estungkara.id\/dua-dekade-menunggu-listrik-di-rombong-ngilo\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/estungkara.id\/dua-dekade-menunggu-listrik-di-rombong-ngilo\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/estungkara.id\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Dua Dekade Menunggu Listrik di Rombong Ngilo\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/estungkara.id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/estungkara.id\/\",\"name\":\"Estungkara\",\"description\":\"Inklusi Sosial, Masyarakat Adat, Perempuan Adat, Inklusi Untuk Semua, Cerita Inklusi, Wujudkan Indonesia Rumah Untuk Semua\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/estungkara.id\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/estungkara.id\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-GB\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/estungkara.id\/#organization\",\"name\":\"Kemitraan\",\"url\":\"https:\/\/estungkara.id\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-GB\",\"@id\":\"https:\/\/estungkara.id\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/estungkara.id\/wp-content\/uploads\/2023\/12\/cropped-estung-kemitraan-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/estungkara.id\/wp-content\/uploads\/2023\/12\/cropped-estung-kemitraan-logo.png\",\"width\":614,\"height\":148,\"caption\":\"Kemitraan\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/estungkara.id\/#\/schema\/logo\/image\/\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/www.facebook.com\/KemitraanIndonesia\/\",\"https:\/\/twitter.com\/kemitraan_ind\",\"https:\/\/www.linkedin.com\/company\/kemitraanindonesia\/\",\"https:\/\/www.instagram.com\/kemitraan_ind\/\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/estungkara.id\/#\/schema\/person\/16a5760478fa1c1162ec3f93c9fb3d84\",\"name\":\"yael stefany\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-GB\",\"@id\":\"https:\/\/estungkara.id\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6d115e593a36e02ba9b69c32f444da9fc61f51db5732ba264b9903e3c5a356e?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6d115e593a36e02ba9b69c32f444da9fc61f51db5732ba264b9903e3c5a356e?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"yael stefany\"},\"url\":\"https:\/\/estungkara.id\/en\/author\/yael\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Dua Dekade Menunggu Listrik di Rombong Ngilo - Estungkara","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/estungkara.id\/en\/dua-dekade-menunggu-listrik-di-rombong-ngilo\/","og_locale":"en_GB","og_type":"article","og_title":"Dua Dekade Menunggu Listrik di Rombong Ngilo - Estungkara","og_description":"Oleh: Hesti Julianawati, KKI WARSI Menjelang magrib, aktivitas di pemukiman Rombong Ngilo mulai berubah. Asap tipis keluar dari botol-botol bekas yang disulap menjadi lampu minyak. Api kecil di ujung sumbu menjadi satu-satunya penerangan ketika malam tiba. Cahayanya redup, tidak cukup menerangi seluruh ruangan, sementara asapnya perlahan memenuhi rumah. Begitulah malam berlangsung selama bertahun-tahun bagi sekitar [&hellip;]","og_url":"https:\/\/estungkara.id\/en\/dua-dekade-menunggu-listrik-di-rombong-ngilo\/","og_site_name":"Estungkara","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/KemitraanIndonesia\/","article_published_time":"2026-07-23T14:21:51+00:00","article_modified_time":"2026-07-23T14:21:54+00:00","og_image":[{"width":1560,"height":1560,"url":"http:\/\/estungkara.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Foto-Hesti-2.jpeg","type":"image\/jpeg"}],"author":"yael stefany","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@kemitraan_ind","twitter_site":"@kemitraan_ind","twitter_misc":{"Written by":"yael stefany","Estimated reading time":"5 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/estungkara.id\/dua-dekade-menunggu-listrik-di-rombong-ngilo\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/estungkara.id\/dua-dekade-menunggu-listrik-di-rombong-ngilo\/"},"author":{"name":"yael stefany","@id":"https:\/\/estungkara.id\/#\/schema\/person\/16a5760478fa1c1162ec3f93c9fb3d84"},"headline":"Dua Dekade Menunggu Listrik di Rombong Ngilo","datePublished":"2026-07-23T14:21:51+00:00","dateModified":"2026-07-23T14:21:54+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/estungkara.id\/dua-dekade-menunggu-listrik-di-rombong-ngilo\/"},"wordCount":1068,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/estungkara.id\/#organization"},"articleSection":["Uncategorized"],"inLanguage":"en-GB","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/estungkara.id\/dua-dekade-menunggu-listrik-di-rombong-ngilo\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/estungkara.id\/dua-dekade-menunggu-listrik-di-rombong-ngilo\/","url":"https:\/\/estungkara.id\/dua-dekade-menunggu-listrik-di-rombong-ngilo\/","name":"Dua Dekade Menunggu Listrik di Rombong Ngilo - Estungkara","isPartOf":{"@id":"https:\/\/estungkara.id\/#website"},"datePublished":"2026-07-23T14:21:51+00:00","dateModified":"2026-07-23T14:21:54+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/estungkara.id\/dua-dekade-menunggu-listrik-di-rombong-ngilo\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-GB","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/estungkara.id\/dua-dekade-menunggu-listrik-di-rombong-ngilo\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/estungkara.id\/dua-dekade-menunggu-listrik-di-rombong-ngilo\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/estungkara.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Dua Dekade Menunggu Listrik di Rombong Ngilo"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/estungkara.id\/#website","url":"https:\/\/estungkara.id\/","name":"Estungkara","description":"Inklusi Sosial, Masyarakat Adat, Perempuan Adat, Inklusi Untuk Semua, Cerita Inklusi, Wujudkan Indonesia Rumah Untuk Semua","publisher":{"@id":"https:\/\/estungkara.id\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/estungkara.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-GB"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/estungkara.id\/#organization","name":"Kemitraan","url":"https:\/\/estungkara.id\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-GB","@id":"https:\/\/estungkara.id\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/estungkara.id\/wp-content\/uploads\/2023\/12\/cropped-estung-kemitraan-logo.png","contentUrl":"https:\/\/estungkara.id\/wp-content\/uploads\/2023\/12\/cropped-estung-kemitraan-logo.png","width":614,"height":148,"caption":"Kemitraan"},"image":{"@id":"https:\/\/estungkara.id\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/KemitraanIndonesia\/","https:\/\/twitter.com\/kemitraan_ind","https:\/\/www.linkedin.com\/company\/kemitraanindonesia\/","https:\/\/www.instagram.com\/kemitraan_ind\/"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/estungkara.id\/#\/schema\/person\/16a5760478fa1c1162ec3f93c9fb3d84","name":"yael stefany","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-GB","@id":"https:\/\/estungkara.id\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6d115e593a36e02ba9b69c32f444da9fc61f51db5732ba264b9903e3c5a356e?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6d115e593a36e02ba9b69c32f444da9fc61f51db5732ba264b9903e3c5a356e?s=96&d=mm&r=g","caption":"yael stefany"},"url":"https:\/\/estungkara.id\/en\/author\/yael\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/estungkara.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3576","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/estungkara.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/estungkara.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/estungkara.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/estungkara.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3576"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/estungkara.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3576\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3579,"href":"https:\/\/estungkara.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3576\/revisions\/3579"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/estungkara.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3577"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/estungkara.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3576"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/estungkara.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3576"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/estungkara.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3576"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}