Dorong Gerakan Pemuda Dalam Ciptakan Lingkungan Sosial yang Inklusif di Desa

Pemuda dan generasi muda adalah komponen penting dalam masyarakat yang perlu dilibatkan secara aktif dalam pembangunan, yang dimulai dari pembangunan di desa. Partisipasi aktif pemuda sangat penting dalam membantu pemerintah merumuskan kebijakan pembangunan, mengatasi tantangan sosial budaya dan ekonomi, serta menciptakan lingkungan sosial yang inklusif di desa. Pemuda memiliki potensi besar untuk menciptakan masa depan yang adil dan berkelanjutan bagi seluruh elemen masyarakat dengan menjunjung tinggi prinsip inklusi, di mana tidak ada satu pun yang tertinggal.

Pemuda dikenal dengan semangat, inovasi, dan kreativitas mereka yang tinggi. Dengan melibatkan mereka dalam pembangunan desa, kita dapat memanfaatkan ide-ide segar dan solusi inovatif untuk mengatasi berbagai tantangan yang ada. Pemuda dapat memberikan perspektif baru dalam berbagai aspek kehidupan desa, mulai dari pertanian, ekonomi kreatif, hingga teknologi informasi.

Generasi muda sering kali lebih mudah beradaptasi dengan perubahan dan memiliki pemahaman yang baik tentang kebutuhan dan aspirasi masyarakat sekitarnya. Mereka dapat berperan sebagai jembatan antara tradisi dan modernitas, membantu mengintegrasikan pengetahuan lokal dengan perkembangan global.

Dengan menjunjung tinggi prinsip inklusi, pemuda dapat berkontribusi dalam menciptakan lingkungan yang adil dan merata bagi semua lapisan masyarakat. Hal ini penting untuk memastikan bahwa pembangunan yang dilakukan dapat dinikmati oleh semua orang tanpa terkecuali.

Penguatan perspektif Gender, Disabilitas, dan Inklusi Sosial (GEDSI) bagi pemuda menjadi penting agar semangat, inovasi, dan kreativitas yang mereka miliki semakin efektif dalam berkolaborasi dengan pemerintah untuk mewujudkan pembangunan dan lingkungan sosial yang inklusif di desa.

YCMM melalui Program SIPAUMAT mengadakan “Pelatihan GEDSI Untuk Perempuan dan Pemuda” di Desa Malancan pada tanggal 29, 30 April hingga 01 Mei 2024. Perspektif GEDSI seharusnya menjadi bagian integral dari strategi pembangunan untuk memastikan semua lapisan masyarakat dapat terlibat dan mendapat manfaat dari pembangunan.

Pengarusutamaan gender dan perspektif GEDSI dalam setiap tahapan pembangunan penting untuk mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender. Kebijakan, strategi, program, dan kegiatan yang responsif gender sudah selayaknya diintegrasikan dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes) dan Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKPDes).

Melalui pelatihan ini, yang juga dihadiri oleh perwakilan Pemerintah Desa Malancan, YCMM ingin menginisiasi kolaborasi antara pemerintah desa dengan kelompok perempuan dan pemuda dalam pembangunan desa. YCMM juga ingin mendorong lahirnya pemuda-pemudi pelopor inklusi sosial di desa dan lingkungan tempat tinggalnya.

Berdasarkan baseline data YCMM, di Desa Malancan terdapat banyak kelompok marginal yang mengalami eksklusi sosial seperti kelompok disabilitas, perempuan kepala keluarga, dan anak-anak. Masih banyak warga yang kesulitan mengakses layanan dasar, bantuan sosial, dan program pemerintah lainnya. Ditambah lagi dengan tingginya angka kasus kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak di Desa Malancan.

Sebagian besar pemuda yang hadir dalam kegiatan ini mengaku baru pertama kali mengikuti pelatihan atau kegiatan peningkatan kapasitas lainnya. Mereka merasa sangat senang karena diundang dalam kegiatan ini.

“Selama ini kami kaum muda di desa tidak pernah terlibat dalam proses pembangunan, mungkin karena tidak dianggap penting atau tidak tahu apa-apa. Kenyataannya kami memang tidak tahu apa-apa seperti apa itu Musrenbang, APBDes, RPJMDes, RKPDes, dan lain-lain karena memang tidak diberi tahu. Kami jadi merasa bahwa urusan pembangunan itu urusan orang tua saja. Pemuda hanya dilibatkan untuk urusan olahraga, perayaan-perayaan hari besar seperti Natal, Tahun Baru, dan perayaan 17 Agustus. Apalagi tentang GEDSI, kami baru mendengarnya sekarang,” ujar Dian, seorang pemudi yang mewakili organisasi Gerakan Pemuda GKPM (Gereja Kristen Protestan Mentawai).

Pernyataan serupa juga disampaikan Hendra, perwakilan Gerakan Pemuda GPdI Sirilanggai. Ia mengatakan bahwa selama ini kelompok pemuda hanya berperan dalam kegiatan-kegiatan gereja atau organisasi keagamaan saja. Menanggapi pernyataan tersebut, Bapak Nason, Kepala Dusun Sibeuotcun, yang mewakili Kepala Desa Malancan, mengakui bahwa pemerintah dusun dan desa selama ini memang belum melirik kelompok pemuda sebagai kekuatan potensial di desa. Beliau sangat mengapresiasi kegiatan pelatihan yang melibatkan kelompok pemuda ini dan terinspirasi untuk melibatkan pemuda dalam Musrenbang Dusun dan perencanaan pembangunan lainnya di tahun ini. Ia juga akan menyampaikan usulan yang sama kepada Kepala Desa agar diberlakukan di sembilan dusun yang ada di Desa Malancan.

Kegiatan pelatihan ini dihadiri oleh 14 perempuan dan 12 laki-laki yang mewakili organisasi-organisasi kepemudaan dari sembilan dusun di Desa Malancan. Narasumber/fasilitator adalah Tarida Hernawati, Program Manager SIPAUMAT YCMM, dan co-fasilitator Bambang Sagurung, fasilitator YCMM di Desa Malancan.
Materi awal yang disampaikan adalah tentang konsep dasar gender, mengingat sebagian peserta masih sangat awam dengan isu GEDSI. Dilanjutkan dengan materi tentang ketidakadilan gender, kesetaraan gender, dan kekerasan berbasis gender. Materi-materi ini disampaikan dalam bentuk presentasi, video, dan film pendek bertemakan gender dan kekerasan berbasis gender. Video dan film pendek cukup efektif untuk meningkatkan pemahaman peserta atas materi narasi dalam presentasi.

Materi tentang disabilitas dan inklusi sosial disampaikan dengan cara yang sama. Beberapa peserta menitikkan air mata saat menonton film pendek yang mengharukan tentang anak disabilitas. Dalam diskusi setelah menonton film tersebut, Pak Nason menyadari bahwa ada banyak anak dengan disabilitas di dusunnya yang selama ini terabaikan. Ia berjanji akan mulai memperhatikan kelompok disabilitas dengan cara memprioritaskan mereka dalam mengakses layanan dasar dan bantuan sosial. Rini, pemudi dari Dusun Ukra, mengatakan bahwa materi dan film tentang disabilitas menyadarkan dirinya bahwa semua orang, termasuk penyandang disabilitas, memiliki hak yang sama.

Di sesi terakhir pelatihan, para peserta menyusun rencana aksi pasca kegiatan pelatihan ini. Peserta terbagi ke dalam tiga kelompok. Di akhir kegiatan, para peserta berharap agar kegiatan yang melibatkan dan menguatkan kapasitas kelompok pemuda ini tidak hanya berakhir di sini. Mereka ingin diberi ruang dan kesempatan untuk terus meningkatkan potensi dan berdaya guna bagi masyarakat dan lingkungan sekitarnya.

Melibatkan pemuda dalam pembangunan desa bukan hanya sebuah kebutuhan, tetapi juga sebuah kewajiban untuk menciptakan masa depan yang lebih baik dan inklusif. Program pelatihan GEDSI di Desa Malancan merupakan langkah awal yang penting dalam memberdayakan pemuda untuk berperan aktif dalam pembangunan desa. Dengan terus memberikan dukungan dan kesempatan, pemuda dapat menjadi agen perubahan yang membawa desa menuju kesejahteraan dan keadilan sosial yang lebih baik.

Penulis :

Tarida Hernawati